SOROTMAKASSAR — MAKASSAR, Anggota Senat sekaligus dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Makassar (FIKK UNM), Dr. Wahyudin, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya menjaga martabat kepemimpinan sebagai upaya menyemai berbagai gagasan demi masa depan FIKK yang lebih baik.
Dosen kelahiran Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, 6 Juni 1979 itu menilai jabatan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2026-2030, yang kini dijabat oleh Dr. Andi Atssam Mappanyukki, S.Or., M.Kes., merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan semangat pelayanan, bukan sekadar simbol gengsi ataupun kekuasaan.
Menurut Wahyudin, pemimpin sejati adalah sosok yang berfokus membangun manusia, memikul tanggung jawab terhadap masa depan, serta menjalankan kepemimpinan dengan kerendahan hati.
Ia berharap Dekan FIKK UNM, Dr. Andi Atssam dapat mengimplementasikan prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut dalam menjalankan roda organisasi dan pengembangan fakultas ke depan.
Lebih lanjut, Wahyudin mengatakan kepemimpinan sejati selalu berlandaskan pada sikap menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, serta bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan.
Ia juga mengingatkan seluruh civitas akademika FIKK UNM agar senantiasa menjunjung tinggi etika akademik. Menurutnya, adab, sopan santun, dan semangat persaingan yang sehat merupakan fondasi penting dalam menjaga marwah institusi pendidikan.
Saat berkunjung ke Redaksi Harian Pedoman Rakyat di Jalan AP Pettarani, Makassar, Jumat (12/6/2026), Wahyudin mengajak seluruh elemen FIKK UNM untuk bersama-sama mendukung pimpinan dalam menyemai gagasan-gagasan intelektual demi kemajuan fakultas.
Menurutnya, seluruh civitas akademika yang ada saat ini merupakan kader-kader terbaik yang dimiliki FIKK UNM dan memiliki peran penting dalam mendorong perkembangan institusi.
Mantan aktivis Pers Mahasiswa era 1998 itu juga mengingatkan, setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu, budaya saling menjatuhkan sebaiknya dihindari dan digantikan dengan semangat saling melengkapi untuk kepentingan bersama.
Ia menekankan, setiap kekurangan perlu ditutupi secara bersama-sama, sedangkan berbagai kelebihan yang dimiliki harus dimanfaatkan untuk mendukung kemajuan FIKK UNM.
Wahyudin menambahkan, FIKK UNM membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan manajerial yang baik, tetapi juga menjunjung tinggi prinsip keadilan. Kepemimpinan yang demikian dinilai penting untuk membawa FIKK UNM semakin diperhitungkan, baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. (Hdr)


