SOROTMAKASSAR -- GOWA, Suasana pagi di pelataran Masjid Syekh Yusuf Lakiung, Sabtu (26/7/2026), terasa begitu syahdu. Pukul 06.30 WITA, tenda-tenda kerucut yang berjajar rapi mulai dipadati jemaah. Tepat pukul 08.30 WITA, gelaran Haul Akbar ke-3 Syekh Yusuf Tuanta Salamaka resmi dimulai, dihadiri tak kurang dari 1.500 jemaah, tokoh ulama, hingga lintas agama.
Acara dibuka dengan penganugerahan adat. Ketua Umum IKB PPSP IKIP UP, Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, bersama inisiator acara, Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak, disamput hangat lewat pengalungan sarung dan pemasangan Songko Passapu oleh Herawaty Ambo Ala. Prof. Harris bahkan dianugerahi gelar adat "Dg. Naba" usai pembacaan riwayat hidup pahlawan nasional tersebut oleh Dg. Sigolo.
Dalam riwayat yang dibacakan Dg. Sigolo, tergambar perjalanan monumental Syekh Yusuf dari tanah Gowa, pengasingannya ke Banten, Ceylon (Sri Lanka), hingga menghembuskan napas terakhir di Cape Town, Afrika Selatan. Perjuangan beliau tidak hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga warisan akhlak yang menembus batas benua.
Ketua Panitia, Ir. Hj. Takudaeng Parawansa, menyampaikan bahwa haul tahun ini mengusung tema “Meneladani Tuanta Salamaka dalam Menguatkan Iman, Ilmu, Akhlak, Persaudaraan, dan Keutuhan Bangsa.” Ia menekankan pentingnya ilmu yang melahirkan akhlak, serta akhlak yang menciptakan kesetaraan. Takudaeng juga membagikan kabar gembira terkait rencana hadirnya cucu Nelson Mandela pada Haul tahun 2027 mendatang.
Prof. Harris Arthur Hedar, selaku penyandang dana utama yang juga mewakafkan tanahnya di dekat kompleks Syekh Yusuf untuk pembentukan Yayasan Syekh Yusuf Al-Makasari, memberikan pesan mendalam:
"Dakwah paling kuat bukan melalui lisan, melainkan lewat keteladanan hidup sehari-hari. Warisan terbesar Syekh Yusuf adalah harapan agar bangsa ini dipenuhi kejujuran, bukan kebencian," tegasnya.
Sementara itu, Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak—sosok di balik gagasan Haul Akbar ini—membagikan kisah emosionalnya. Mantan Kajati Sulsel yang kini menjabat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) tersebut menegaskan rasa cintanya yang begitu besar pada tanah Sulawesi Selatan.
"Saya bukan orang Sulsel, tapi saya sangat mencintai Sulsel. Jika ada kehidupan kedua, saya ingin dilahirkan sebagai orang Sulsel," ungkap Leo haru. Ia berharap peringatan Haul tidak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan gerakan kebudayaan yang teratur dari Gowa untuk Indonesia, bahkan diusulkan menjadi Perda.
Suasana kian syahdu saat gemuruh rampak bedug dari tim marawis Barombong mengudara. Acara diakhiri dengan aksi nyata kepedulian sosial, di mana Prof. Harris membagikan bantuan uang tunai senilai Rp10 juta kepada 200 anak di Qasa. ( Ardhy M Basir )


