SOROTMAKASSAR -- GOWA, Suasana di Kompleks Masjid Syekh Yusuf, Katangka, Kabupaten Gowa, terasa berbeda pada Sabtu (25/7/2026). Angin sepoi membawa keheningan khidmat di tengah ribuan jemaah yang memadati pelataran. Hari itu, tak kurang dari 1.500 jemaah dan tokoh masyarakat berkumpul dalam kesatuan rasa pada gelaran Haul Akbar Syekh Yusuf Al-Makassari ke-3.
Di bawah naungan tema “Menjaga Tauhid, Merawat Persatuan, Menerangi Peradaban,” peringatan ini bukan sekadar ritual tahunan melainkan panggung perenungan mendalam tentang bagaimana warisan perjuangan ulama besar dan pahlawan nasional itu terus merajut kebangsaan.
Gowa hingga Afrika
Lahir di Tanah Gowa pada tahun 1626, nama Syekh Yusuf Al-Makassari—atau yang akrab disapa masyarakat Bugis-Makassar sebagai Tuanta Salamaka—telah melampaui sekat-sekat zaman dan batas geografi. Perjuangannya menyebarkan syiar Islam dan menentang imperialis tak berhenti di bumi Nusantara. Jejak tapak sucinya terukir hingga ke Sri Lanka dan Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Bahkan pahlawan kemanusiaan dunia, Nelson Mandela, pernah menaruh hormat setinggi-tingginya kepada Syekh Yusuf. Bagi Mandela, Sang Ulama adalah sumber inspirasi sejati dalam mengobarkan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan dan sistem diskriminatif apartheid.
Kedalaman spiritual dan keberanian geopolitik inilah yang kembali dihidupkan oleh Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia Profesional, Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, S.H., M.H., sosok yang kembali menginisiasi gelaran Haul Akbar ini.
"Dari Syekh Yusuf kita belajar bahwa keimanan bukan sekadar diucapkan, tetapi diwujudkan melalui keteguhan sikap, keluasan ilmu, dan kesediaan berkorban demi kemuliaan agama dan umat," tegas Prof. Harris, yang juga menjabat sebagai Ketua IKB PPSP IKIP Ujungpandang.
Meneruskan Warisan Lewat Wakaf
Peringatan Haul kali ini tidak hanya diwarnai oleh refleksi sejarah dan untaian doa, tetapi juga keteladanan aksi nyata. Dalam momen penuh keberkahan tersebut, Prof. Harris menyampaikan komitmen mulianya untuk mewakafkan sebidang tanah bagi pembangunan Rumah Tahfiz Syekh Yusuf.
Komitmen ini bukan sekadar janji lisan. Dalam waktu dekat, proses hibah wakaf tersebut akan dituangkan secara resmi dalam akta notaris dan diserahkan langsung kepada Yayasan Syekh Yusuf Al-Makassari. Langkah ini diharapkan mampu mencetak generasi penerus yang tidak hanya hafal Al-Qur'an, tetapi juga mewarisi keteguhan tauhid dan keluhuran budi ala Tuanta Salamaka.
Merajut Ukhuwah di Bawah Langit Katangka
Kehadiran berbagai elemen masyarakat menjadikan Haul Akbar ini sebagai simpul perekat persatuan. Berbagai pejabat dan tokoh lintas daerah tampak larut dalam khusyuknya acara, antara lain:
Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak, S.H., M.H. (Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Umum)
Rachmatika Dewi (Ketua DPRD Sulawesi Selatan)
Adnan Purichta Ichsan (Mantan Bupati Gowa)
Iksan Iskandar (Mantan Bupati Jeneponto)
Ilham Arief Sirajuddin ( Mantan Walikota Makassar )
Kehadiran para tokoh ini mempertegas bahwa keteladanan Syekh Yusuf adalah milik semua golongan—sebuah jembatan ukhuwah yang melintasi latar belakang politik dan jabatan.
Muara Doa di Pusara Sang Pahlawan
Rangkaian Haul Akbar mencapai puncaknya menjelang petang. Ratusan jemaah melangkahkan kaki menuju kompleks makam Syekh Yusuf Al-Makassari untuk menggelar ziarah bersama.
Di hadapan pusara Tuanta Salamaka, lantunan doa, tahlil, dan shalawat membumbung ke udara. Ada rasa haru dan kerinduan mendalam akan sosok pemimpin spiritual yang mengajar kita bahwa kedamaian, persatuan, dan pengabdian kepada bangsa adalah jalan tertinggi dalam bertauhid.
Di tanah Katangka hari itu, pesan keteladanan Syekh Yusuf kembali menyala terang—menjadi kompas moral bagi generasi hari ini dan masa depan. ( Ardhy M Basir )


