62 Penyair, Ribuan Makna: Festival Sastra Kepulauan IX Rawat Tradisi dan Budaya

SOROTMAKASSAR -- GOWA, Festival Sastra Kepulauan IX resmi dibuka di Baruga Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat malam (18/9/2026). Mengusung tema “Merawat Tradisi Puitik, Menautkan Keberagaman Kampung”, festival ini menghadirkan sastrawan, seniman, akademisi, pelajar, mahasiswa, dan pegiat budaya dari berbagai daerah.

Festival yang berlangsung 18–20 September 2026 tersebut tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan sastra, tetapi juga menjadi wadah perjumpaan berbagai gagasan, tradisi, dan pengalaman kebudayaan. Sastra ditempatkan sebagai medium dialog yang mempertemukan masyarakat dalam semangat keberagaman dan persaudaraan.

Pembukaan festival dilakukan Wahida, S.S., M.A., mewakili Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Toha Machsum, M.Ag. Dalam sambutannya, Wahida menyampaikan apresiasi kepada Teater Kita Makassar yang dinilai konsisten menghadirkan ruang pertemuan, apresiasi, dan pengembangan sastra di tengah dinamika kebudayaan.

Wahida menegaskan, sastra memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, karya sastra bukan hanya sarana berekspresi, tetapi juga dapat menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan serta memperkuat kesadaran bersama untuk merawat kebudayaan.

“Dengan ini, Balai Bahasa Provinsi Sulsel memberikan apresiasi kepada Teater Kita Makassar. Melalui sastra, dapat dihubungkan berbagai elemen masyarakat. Sastra bukan sekadar ruang berekspresi, tetapi juga jembatan keberagaman,” ujar Wahida.

Ketua Panitia Festival Sastra Kepulauan IX, Dr. Asia Ramli, mengatakan festival tahun ini menghadirkan 11 agenda utama. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi panggung sastra, diskusi, lokakarya, pameran buku, kemah sastra, serta berbagai lomba kreatif, termasuk baca puisi dan penulisan.

Menurut Asia Ramli, seluruh agenda dirancang untuk memperluas partisipasi masyarakat sekaligus memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mengembangkan kreativitas melalui sastra. Keterlibatan siswa dan mahasiswa menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian festival.

Salah satu agenda utama adalah peluncuran antologi puisi “Kata-kata yang Menyeberang” yang menghimpun karya 62 penyair dari berbagai daerah, termasuk Malaysia. Kehadiran puluhan penyair tersebut menjadi gambaran bahwa sastra mampu melampaui batas wilayah dan mempertemukan beragam pengalaman melalui karya.

“Ini adalah tradisi yang terus kami jaga. Ada 11 item kegiatan, termasuk peluncuran antologi dari 62 penulis, dari berbagai daerah, bahkan ada dari Malaysia,” kata Asia Ramli.

Ia berharap Festival Sastra Kepulauan IX dapat menjadi ruang inspirasi bagi masyarakat untuk terus membaca, menulis, berdiskusi, dan menghasilkan karya. Festival juga diharapkan mampu memperkokoh identitas budaya bangsa melalui penguatan tradisi literasi dan apresiasi terhadap karya sastra.

Festival ini mendapat dukungan dari sejumlah mitra strategis, antara lain Badan Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Teater Kita Makassar, FSD UNM, Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan, Dewan Kesenian Sulsel, serta UPT Taman Budaya Sulsel.

Kolaborasi lintas instansi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem sastra dan kesenian. Sinergi antara lembaga pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, sanggar, dan pelaku seni dinilai penting agar ruang berkesenian terus tumbuh dan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Ketua Dewan Kesenian Sulsel, Dr. Arifin Manggau, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas dukungan Balai Bahasa Sulsel terhadap keberlangsungan dunia kesenian. Ia mengatakan Dewan Kesenian Sulsel terus berupaya membantu sanggar dan komunitas seni agar tetap produktif di tengah berbagai keterbatasan.

“Walaupun DKSS belum mendapat hibah kesenian, kami banyak membantu sanggar-sanggar. Terima kasih atas kerja sama selama ini,” ucap Arifin.

Pembukaan Festival Sastra Kepulauan IX diawali dengan pembacaan doa oleh Andi Hendra Bahar, S.Pd.Gr., dan dihadiri puluhan sastrawan, budayawan, akademisi, serta seniman dari berbagai daerah. Kehadiran mereka memperkuat festival sebagai ruang pertemuan, pembelajaran, apresiasi, dan pertukaran gagasan kebudayaan.

Di tengah perubahan zaman, Festival Sastra Kepulauan IX menjadi momentum untuk memastikan tradisi membaca, menulis, dan berkarya tetap hidup di tengah masyarakat. Melalui puisi dan berbagai karya sastra, keberagaman pengalaman dan budaya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya sekaligus menjadi ruang untuk saling memahami.

Festival tersebut pada akhirnya menegaskan bahwa sastra memiliki daya untuk menyeberangi batas geografis, sosial, dan budaya. Dari kata-kata yang lahir dari berbagai kampung dan daerah, terbangun jembatan kebudayaan yang mempertemukan beragam suara dalam satu semangat persaudaraan dan kecintaan terhadap Indonesia. (*)

Top Hit

Politik

Pendidikan

Seputar Sulawesi

Opini

Berita Makassar

Kuliner Nusantara

Newsletter

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN