Novel 'Noni Societeit de Harmonie' Miliki Data Sejarah, Nilai budaya, dan kemanusiaan

SOROTMAKASSAR -- Makassar

Novel 'Noni Societeit de Harmonie' karya Yudhistira Sukatanya, yang memiliki kandungan data sejarah, nilai budaya, dan kemanusiaan, proses penulisannya memakan waktu cukup lama, sekitar empat tahun.

Lamanya penulisan diakui sang penulis, Yudhistira Sukatanya, pada sesi diskusi, dalam kegiatan Seminar dan Bedah Buku Novel 'Noni Societeit de Harmonie' karya Yudhistira Sukatanya, yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, di Hotel Gammara, Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, belum lama ini.

Yudhistira Sukatanya mengungkapkan, proses pembuatan novelnya relatif lama. Karena ketika novel mulai dikerjakan, dia masih disibukkan dengan urusan dinasnya di Radio Republik Indonesia (RRI).

Katanya, setiap kali menulis, dirinya membagikan file-file tulisannya itu ke beberapa sahabatnya. Jadi kalau filenya hilang, dia akan meminta kembali ke sahabatnya itu.

"Jadi prosesnya cukup lama, lantaran saya sering berpindah dari satu kota ke kota lain. Pernah di Natuna, Ternate, dan di Bengkulu," tutur pendiri Sanggar Merah Putih dan Sinergi Teater Makassar.

Yudhistira Sukatanya juga mengaku, termotivasi menyelesaikan karyanya, karena rancangan novelnya mendapat respons yang baik dari para sahabatnya. Termasuk membantu memberinya data sejarah yang menjadi latar novelnya. Termasuk penggunaan bahasa Belanda.

"Saya berharap, novel seperti ini akan jadi cara menarik untuk kita belajar sejarah," kata lelaki yang banyak menulis naskah dan menyutradarai pementasan teater ini.

Selain Yudhistira Sukatanya, dalam kegiatan tersebut, ikut hadir akademis dan Seniman, DR. Asis Nojeng, penulis dan pegiat literasi, Rusdin Tompo. Diskusi dipandu seorang penulis, yang dikenal luas sebagai penggerak literasi, Bachtiar Adnan Kusuma.

Rusdin Tompo memuji stamina dan semangat yang dimiliki penulis novel 'Noni Societeit de Harmonie', karena telaten menelisik sejarah Makassar.

Menurutnya, seorang penulis harus punya visi dan ideologi yang akan dikontribusikan bagi masyarakat. Dan pembelajaran yang diberikan penulis, Yudhistira Sukatanya, yakni pentingnya data sebagai aset bagi seorang penulis, termasuk dalam melahirkan karya sastra.

Dia mencontohkan, sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, yang memasukkan aspek sejarah dan kondisi sosial politik bangsanya, seperti dapat dibaca dalam 'Tetralogi Pulau Buru'.

Selanjutnya, DR. Asis Nojeng menuturkan, sebuah karya sastra harus dilihat dari faktor-faktor di luar sastra yang memperkaya kualitas sebuah karya sastra. Realitas sosial, nilai budaya dan sejarah, termasuk di dalamnya.

Khusus novel 'Noni Societeit de Harmonie', papar DR. Asis Nojeng, banyak pembelajaran nilai budaya yang dihadirkan, seperti siri', macca atau caradde, dan pangngederreng.

"Nilai-nilai dan karakter Bugis-Makassar banyak ditampilkan dalam novel tersebut," tegasnya.

Budayawan Prof. Nurhayati Rahman, yang hadir dalam acara diskusi buku, melihat pesan utama tentang kemanusiaan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam novelnya. Menurut Guru Besar Filologi Universitas Hasanuddin (Unhas) ini, tema utama kemanusiaan tersebut yang akan dikenang abadi.(rk)

Top Hit

Politik

Pendidikan

Seputar Sulawesi

Opini

Berita Makassar

Kuliner Nusantara

Newsletter

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN