SOROTMAKASSAR - MAKASSAR, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI bersama Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPN) secara resmi membuka agenda konsultasi strategis bersama dewan juri Pesparawi Nasional XIV pada Kamis (23/04/2026). Pertemuan ini menjadi pilar krusial dalam mematangkan teknis penjurian untuk ajang musik gerejawi terbesar di Indonesia yang akan segera bergulir tersebut.
Mewakili Dirjen Bimas Kristen, Direktur Urusan Agama sekaligus Sekretaris Umum LPPN, Luksen Jems Mayor, hadir didampingi Sekretaris Ditjen Bimas Kristen yang juga menjabat Bendahara Umum LPPN, Johni Tilaar. Sesi konsultasi ini dihadiri oleh sedikitnya 30 pakar musik dan akademisi yang bertindak sebagai juri dari berbagai pelosok Nusantara.
Dalam laporannya, Ketua Panitia sekaligus Ketua III LPPN, Untung P. Siahaan, memberikan apresiasi tinggi atas komitmen para juri yang hadir. Ia menekankan bahwa kehadiran 30 juri lintas daerah ini sangat vital untuk menyatukan standar penilaian (persamaan persepsi) demi menjamin objektivitas kompetisi yang akan diikuti oleh ribuan peserta dari 38 provinsi.
“Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian adalah kunci kualitas kompetisi ini. Mari kita jadikan forum ini sebagai ruang diskusi yang produktif sebagai bekal utama menjalankan mandat penjurian pada perhelatan akbar di bulan Juni mendatang,” ungkap Untung dengan penuh optimisme.
Sambutan hangat juga datang dari Ketua LPPD Provinsi Sulawesi Selatan, Pdt. Adrie O. Massie. Selain mengucapkan selamat datang, ia mengajak para peserta untuk menjalankan tugas tanggung jawab profesi dengan hati, sembari menikmati keramahan dan eksotisme kuliner serta budaya Kota Makassar sebagai tuan rumah konsultasi.
Acara resmi dibuka oleh Luksen Jems Mayor yang dalam arahannya menggarisbawahi bahwa peran dewan juri melampaui sekadar penilaian teknis vokal dan harmoni. Ia menegaskan bahwa tugas ini adalah sebuah panggilan iman; sebuah amanah spiritual yang pertanggungjawabannya tidak hanya kepada publik, namun langsung di hadapan Tuhan.
Luksen mengingatkan bahwa setiap melodi yang dilombakan dalam Pesparawi adalah bentuk pengagungan kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, integritas tanpa kompromi serta penerapan nilai-nilai Kristiani harus menjadi fondasi utama bagi setiap juri dalam memberikan penilaian di atas panggung nanti.
Lebih jauh, ia memberikan sorotan khusus pada signifikansi pelaksanaan Pesparawi XIV yang akan bertempat di Papua. Baginya, ajang kali ini bukan sekadar rutinitas tiga tahunan, melainkan sebuah pertaruhan kehormatan dan martabat umat Kristiani, khususnya bagi masyarakat Papua yang berkomitmen menjadi tuan rumah yang luar biasa.
“Penyelenggaraan di Papua memiliki nilai historis dan emosional yang kuat. Ini adalah momentum untuk mengangkat martabat masyarakat Papua melalui simfoni pujian, dan semangat persatuan ini harus kita jaga hingga hari pelaksanaan,” tambahnya.
Konsultasi ini diharapkan mampu mengunci sinergi yang solid antara penyelenggara dan pengadil lapangan. Dengan persiapan matang ini, Pesparawi Nasional XIV 2026 diprediksi akan menjadi standar baru kesuksesan festival keagamaan yang membawa dampak transformasi spiritual bagi umat Kristen di seluruh Indonesia. (*)


