Pertunjukan Tari A'Karena Ri Benteng Pannyua Karya Nurlina Syahrir Digelar di Benteng Fort Rotterdam


SOROTMAKASSAR -- Makassar.

Tari A’Karena ri Benteng Panyua merupakan sebuah karya yang mencoba melakukan konstruksi sosial budaya yang menggunakan simbol budaya lokal sebagai dasar pijakan dalam melakukan eksplorasi. 

Pertunjukan ini dibentuk dan dikonstruksi mengikuti konsep koreografi A’Karena ri Benteng Pannyua yang menyesuaikan diri dengan landscap tata ruang di Benteng Ford Rotterdam sebagai pondasi karya.

Pertunjukan Tari A’Karena karya/koreografer Nurlina Syahrir yang dibantu teaterawan dan sastrawan Ram Prapanca (Darmaturgi), Penata Lighting Mustakim dan Sukma Silanan, Penata Artistik Is Hakim Mapping.

Mereka ini tim work yang kuat saat di jumpai awak media di Benteng Ujungpandang tempat dilangsungkannya pertunjukan tersebut, Selasa (27/08/2019).

Acara ini berlansung Rabu  28 Agustus 2019 bertempat du Benteng Fort Rotterdam, Makassar. Pukul 10.00 Wita dimulai Workshop Tari, Musik, dan Sastra. Pukul 16.00 Wita dilanjutkan segmen Ritual Adat. Malam pukul 19.30 Wita Pertunjukan Tari A’Karena RI Benteng Panyua. 

Tari, Musik, Mapping tentang Koreografer Dr. Nurlina Syahrir, M.Hum selaku Produser, Art Space Conceptor, Koreografer dan Penari, saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar. 

Meraih gelar Doktor dalam bidang Manajemen Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dengan disertasi berjudul “Pakarena Sere Jaga Nigandang, Identitas Budaya and Perempuan Makassar”. Meraih gelar Master di Universitas Gajah Mada pada tahun 1996.

Berikut Sinopsis Pertunjukan Tari dan Sturktur Dramatik, Benteng Pannyua atau biasa juga disebut Benteng Ujung Pandang yang pada awalnya merupakan benteng milik Kerajaan Gowa-Tallo.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X, Karaeng Tumapakrisi Kallonna. Kemudian diambil alih oleh Belanda sebagai pusat perdagangan dan militer melalui Perjanjian Bongayya 18 November 1667 dan diberi nama Fort Rotterdam. 

Sejarah Kota Makassar termasuk sejarah pertumbuhan kota, arsitektur dan kesenian beririsan dengan benteng ini. Pertunjukan tari “A’Karane ri Benteng Pannyua” yang berakar dari mitos atau tradisi Pakarena memperlihatkan bagaimana kesenian tari memiliki hubungan sejarah, sosial, budaya dan politik dengan benteng Pannyua dan lingkungan sekitarnya di masa lalu dan masa kini.

Kesabaran, ketabahan dan keteguhan perempuan dalam pertunjukan ini sebagai sikap mendasar bagi manusia Makassar ketika menghadapi rintangan hidup dalam filosofi siri’ na pace (harga diri dan kehormatan). 

Sementara struktur dramatiknya, kejadian pertama : Amuntuli Aparrapa Empo Amuntuli Aparrapa Empo dalam tradisi Makassar untuk menyambut dan mengiringi tamu menuju ke tempat duduk sebelum acara dimulai. 

Penerima tamu dengan tubuh ritualnya merepresentasikan sikap sipakatau yang saling memanusiakan, sipakainge yang saling mengingatkan, sipakalebbi yang saling menghargai. 

Kejadian Kedua : Tomanurung Menitiskan Assulapa Appa menggambarkan mitos Tomanurung, seperti cahaya turun dari langit (boting langi) ke bumi (lino). Tomanurung menitiskan manusia assulapa appa, yang mendeskripsikan sosok yang sempurna sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat sebagai panutan yang memberi petunjuk kepada manusia mengenai tata cara dari segala aspek kehidupan. 

Kejadian Ketiga : Karenang Bate Salapang adalah majelis yang memilih dan melantik raja. Mereka menjaga keutuhan dan siap mati untuk kerajaan. Karenang Bate Salapang menggambarkan permainan yang berbeda dengan bela diri pada umumnya. Tidak ada serangan dan tangkisan, tetapi lebih memilih menunggu. Ketika melakukan gerakan langsung melumpuhkan atau mematikan.

Kejadian Keempat : Komunitas Kota yang Kosmopolitan menggambarkan kehidupan masyarakat Makassar yang multikultural, yang giat ikut dalam jaringan bisnis, berinteraksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan. 

Sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas keberagaman budaya dari berbagai etnik yang berbeda untuk saling berinteraksi sebagai syarat yang niscaya untuk hidup bersama.

Kejadian Kelima : A’Karena dalam Pusaran Waktu menggambarkan tentang kesabaran, ketabahan, keteguhan manusia Makassar dalam mengarungi pusaran waktu yang lalu, kini, dan bahkan yang akan datang. Suara, gerak dan kata mewujudkan perbuatan manusia yang memiliki siri’na pace (harga diri dan kehormatan) disertai dengan kesucian hati.

Manusia Makassar sangat mencintai dan menghargai tanah Gowa. Harga diri dan kehormatannya dipertaruhkan untuk negerinya karena merupakan sumber kehidupan mereka. (rk)
 

Politik

Pendidikan

Opini

Berita Makassar

Kuliner Nusantara

Newsletter

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN