SOROTMAKASSAR -- Makassar.
Belum puas dengan aksi demo sehari sebelumnya, puluhan mahasiswa gabungan sejumlah fakultas di Universitas Hasanuddin (Unhas), kembali melanjutkan unjuk rasa di depan Gedung Rektorat Unhas, Kampus Tamalanrea, Jln Perintis Kemerdekaan Makassar, Jumat (03/05/2019) siang.

Keterangan yang dihimpun media ini menyebutkan, berbeda dengan aksi sebelumnya pada Kamis (02/05/2019) siang, dalam aksi unjuk rasa lanjutan kali ini massa mahasiswa tidak lagi datang dengan mengenakan seragam merah jas almamater Unhas, dan jumlahnya pun tidak sebanyak hari sebelumnya.
Dalam unjuk rasa Jumat siang itu, pengunjuk rasa kembali mengajukan tuntutannya yang meminta Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA segera mundur dari jabatan Rektor Unhas karena dianggap tidak mampu menyelesaikan sejumlah permasalahan yang terjadi di lingkup Unhas.
Unjuk rasa kali ini berlangsung tertib. Sehabis menyampaikan aspirasinya, mahasiswa membubarkan diri dan meninggalkan Gedung Rektorat Unhas. Meski demikian, sejumlah petugas pengamanan Kampus Unhas tetap berjaga-jaga untuk mengantisipasi terulangnya kericuhan seperti hari sebelumnya.
Enam Analisis Masalah
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, ratusan mahasiswa gabungan dari berbagai fakultas di lingkup Universitas Hasanuddin (Unhas), menggelar unjuk rasa yang berbuntut dengan keributan, Kamis (02/05/2019) siang sekitar pukul 14.00 Wita di depan Gedung Rektorat Unhas.
Massa mahasiswa yang sebagian besar mengenakan seragam jas almamater Unhas warna merah, mendatangi Gedung Rektorat Unhas saat Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA bersama pejabat-pejabat teras Unhas sedang rapat sejak pagi hari.
Dengan membentangkan kain spanduk warna merah berukuran sekitar 1 x 4 meter dan bertuliskan "TURUNKAN REKTOR", massa mahasiswa melakukan orasi secara bergantian di depan pintu utama Gedung Rektorat dengan pengawasan petugas keamanan Kampus Unhas Tamalanrea.
Massa mahasiswa membacakan pula surat Pernyataan Sikapnya yang diberi judul "Demokratisasi Kampus, Runtuhkan Rezim Otoriterianisme Dalam Kampus". Mahasiswa juga menguraikan 6 (enam) analisis masalah yang terjadi di Unhas dan harus segera diselesaikan oleh Rektor Unhas selaku Pimpinan Tertinggi Unhas.
Enam analisis masalah itu, yakni terkait birokrasi Unhas yang berkesan tidak profesional, lalu soal PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) Unhas serta Hiper-Eksploitasi pekerja kebersihan dalam jerat sistem kontrak maupun outsourcing, dan menyangkut jam malam yang mengakhiri hak atas kampus.
Kemudian masalah pungli terhadap ujian mahasiswa, dan selanjutnya tentang tindakan kekerasan akademik yang terjadi dengan studi kasus pada skorsing 4 (empat) mahasiswa Kelautan, serta yang terakhir adalah mengenai intervensi lembaga mahasiswa.
Masalah lainnya yang disorot mahasiswa, seperti masuknya investor dalam kampus, hingga soal uang kuliah yang semakin mahal. Karenanya, Rektor sebagai Pimpinan Tertinggi Unhas bertanggung jawab penuh terhadap jalannya keprofesionalitasan dalam pendidikan tinggi.
Atas poin-poin analisis masalah tersebut, massa mahasiswa menuntut Rektor Unhas segera menyelesaikan semua persoalan yang selama ini lepas dari pengawasannya. Dan jika tak diselesaikan dalam kurun waktu yang disepakati, mahasiswa menuntut Rektor Unhas turun dari jabatannya.
Meski dikabarkan bahwa Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA sempat menemui mahasiswa, namun kericuhan tidak dapat dielakkan. Keributan pun terjadi antara massa pengunjuk rasa dengan petugas keamanan Kampus Tamalanrea dan sejumlah mahasiswa yang tidak sependapat dengan aksi serta tuntutan para pendemo.
Diawali saling berdebat hingga dorong-dorongan dan berlanjut lempar melempar menggunakan batu, kayu dan benda lainnya. Petugas keamanan Kampus Tamalanrea akhirnya berhasil memaksa mundur para pengunjuk rasa yang kemudian membubarkan diri dan meninggalkan area Gedung Rektorat Unhas. (jw-mul)
Belum puas dengan aksi demo sehari sebelumnya, puluhan mahasiswa gabungan sejumlah fakultas di Universitas Hasanuddin (Unhas), kembali melanjutkan unjuk rasa di depan Gedung Rektorat Unhas, Kampus Tamalanrea, Jln Perintis Kemerdekaan Makassar, Jumat (03/05/2019) siang.

Keterangan yang dihimpun media ini menyebutkan, berbeda dengan aksi sebelumnya pada Kamis (02/05/2019) siang, dalam aksi unjuk rasa lanjutan kali ini massa mahasiswa tidak lagi datang dengan mengenakan seragam merah jas almamater Unhas, dan jumlahnya pun tidak sebanyak hari sebelumnya.
Dalam unjuk rasa Jumat siang itu, pengunjuk rasa kembali mengajukan tuntutannya yang meminta Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA segera mundur dari jabatan Rektor Unhas karena dianggap tidak mampu menyelesaikan sejumlah permasalahan yang terjadi di lingkup Unhas.
Unjuk rasa kali ini berlangsung tertib. Sehabis menyampaikan aspirasinya, mahasiswa membubarkan diri dan meninggalkan Gedung Rektorat Unhas. Meski demikian, sejumlah petugas pengamanan Kampus Unhas tetap berjaga-jaga untuk mengantisipasi terulangnya kericuhan seperti hari sebelumnya.
Enam Analisis Masalah
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, ratusan mahasiswa gabungan dari berbagai fakultas di lingkup Universitas Hasanuddin (Unhas), menggelar unjuk rasa yang berbuntut dengan keributan, Kamis (02/05/2019) siang sekitar pukul 14.00 Wita di depan Gedung Rektorat Unhas.
Massa mahasiswa yang sebagian besar mengenakan seragam jas almamater Unhas warna merah, mendatangi Gedung Rektorat Unhas saat Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA bersama pejabat-pejabat teras Unhas sedang rapat sejak pagi hari.
Dengan membentangkan kain spanduk warna merah berukuran sekitar 1 x 4 meter dan bertuliskan "TURUNKAN REKTOR", massa mahasiswa melakukan orasi secara bergantian di depan pintu utama Gedung Rektorat dengan pengawasan petugas keamanan Kampus Unhas Tamalanrea.
Massa mahasiswa membacakan pula surat Pernyataan Sikapnya yang diberi judul "Demokratisasi Kampus, Runtuhkan Rezim Otoriterianisme Dalam Kampus". Mahasiswa juga menguraikan 6 (enam) analisis masalah yang terjadi di Unhas dan harus segera diselesaikan oleh Rektor Unhas selaku Pimpinan Tertinggi Unhas.
Enam analisis masalah itu, yakni terkait birokrasi Unhas yang berkesan tidak profesional, lalu soal PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) Unhas serta Hiper-Eksploitasi pekerja kebersihan dalam jerat sistem kontrak maupun outsourcing, dan menyangkut jam malam yang mengakhiri hak atas kampus.
Kemudian masalah pungli terhadap ujian mahasiswa, dan selanjutnya tentang tindakan kekerasan akademik yang terjadi dengan studi kasus pada skorsing 4 (empat) mahasiswa Kelautan, serta yang terakhir adalah mengenai intervensi lembaga mahasiswa.
Masalah lainnya yang disorot mahasiswa, seperti masuknya investor dalam kampus, hingga soal uang kuliah yang semakin mahal. Karenanya, Rektor sebagai Pimpinan Tertinggi Unhas bertanggung jawab penuh terhadap jalannya keprofesionalitasan dalam pendidikan tinggi.
Atas poin-poin analisis masalah tersebut, massa mahasiswa menuntut Rektor Unhas segera menyelesaikan semua persoalan yang selama ini lepas dari pengawasannya. Dan jika tak diselesaikan dalam kurun waktu yang disepakati, mahasiswa menuntut Rektor Unhas turun dari jabatannya.
Meski dikabarkan bahwa Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA sempat menemui mahasiswa, namun kericuhan tidak dapat dielakkan. Keributan pun terjadi antara massa pengunjuk rasa dengan petugas keamanan Kampus Tamalanrea dan sejumlah mahasiswa yang tidak sependapat dengan aksi serta tuntutan para pendemo.
Diawali saling berdebat hingga dorong-dorongan dan berlanjut lempar melempar menggunakan batu, kayu dan benda lainnya. Petugas keamanan Kampus Tamalanrea akhirnya berhasil memaksa mundur para pengunjuk rasa yang kemudian membubarkan diri dan meninggalkan area Gedung Rektorat Unhas. (jw-mul)








