SOROTMAKASSAR - MAKASSAR.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) membuka pintu kolaborasi strategis seluas-luasnya bagi para investor domestik maupun mancanegara. Isyarat ramah investasi ini digaungkan secara langsung dalam ajang Business Investment Expo yang menjadi bagian dari Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) XXXV.
Bertempat di Hotel Claro Makassar, Jalan Andi Pangeran Pettarani, Sulawesi Selatan, agenda bergengsi tersebut digelar pada Senin (3/8/2026). Dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltara, Dr. Hj. Hasriyani, SH, MM, hadir mewakili Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum.
Hasriyani menegaskan bahwa Pemprov Kaltara terus membenahi sistem tata kelola investasi sembari secara gencar mempromosikan ragam potensi unggulan daerah. Sebagai provinsi termuda di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, Kaltara membutuhkan dukungan para penanam modal guna mengoptimalkan potensi daerah sebagai motor utama penggerak perekonomian.
"Lewat momentum Rakerkonas Apindo ini, kami mengundang para pengusaha untuk menanamkan modalnya di Kalimantan Utara. Potensi daerah kami sangat melimpah dan ruang berinvestasi masih terbuka amat lebar," ungkap Hasriyani saat menyampaikan pesan Gubernur Zainal Arifin Paliwang.
Ia menerangkan, arah pembenahan investasi di Kaltara berpijak teguh pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta visi besar Gubernur. Visi tersebut menempatkan Kaltara sebagai benteng terdepan NKRI yang berdaya saing tinggi, berbasis pengelolaan alam berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat yang merata.
Demi mewujudkan cita-cita tersebut, pemerintah daerah memprioritaskan akselerasi infrastruktur kunci, pengembangan kawasan industri terpadu, hingga pembangunan pelabuhan berstandar internasional. Salah satu magnet investasi utama yang ditawarkan adalah Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Tanah Kuning-Mangkupadi di Kabupaten Bulungan. Kawasan berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) seluas 9.000 hektare ini sebelumnya telah di-groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo pada 2021 lalu.
Hasriyani menyebutkan bahwa KIHI menjadi kebanggaan kolektif masyarakat Kaltara, terlebih setelah Presiden Jokowi mengukuhkannya sebagai kawasan industri hijau terbesar di dunia. “Dalam forum ini, kami tegaskan bahwa karpet merah dan peluang keemasan senantiasa terbentang bagi investor yang ingin bergabung di Kawasan Industri Hijau Kaltara,” ujarnya.
Tidak hanya kawasan industri, Pemprov Kaltara turut menawarkan portofolio proyek strategis lainnya di Bulungan, seperti Bandara Hijau, Rumah Sakit Tipe B, serta akses Jalan Tol Tanjung Selor–Tanah Kuning. Peluang emas juga membentang di Kota Tarakan dan Kabupaten Nunukan yang menyimpan kekayaan melimpah di sektor kelautan serta perikanan.
Hasriyani memaparkan bahwa kedua wilayah tersebut merupakan basis komoditas perikanan dan rumput laut berkapasitas raksasa, bahkan menempati posisi terbesar kedua di Indonesia setelah Sulawesi Selatan. Meski demikian, tantangan utama yang dihadapi saat ini terletak pada keterbatasan hilirisasi industri lokal.
Ia mengungkapkan, sekitar 95 persen hasil tangkapan laut dan komoditas rumput laut masih dikirim dalam bentuk mentah ke luar daerah seperti Makassar dan Surabaya. Praktis, hanya sekitar lima persen yang dikelola oleh pelaku IKM maupun UMKM lokal di Kaltara. “Kami sangat membutuhkan kehadiran industri pengolahan. Bahan baku kami melimpah, namun sebagian besar harus keluar daerah karena minimnya fasilitas pemrosesan,” terangnya.
Oleh karena itu, Pemprov Kaltara membuka karpet merah bagi investasi pembangunan kawasan industri perikanan, pengolahan rumput laut, hingga pelabuhan internasional di Tarakan dan Nunukan. Hasriyani menambahkan, letak geografis Kaltara yang berbatasan langsung dengan Malaysia serta berdampingan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi nilai tambah yang sangat strategis. Bahkan, Bandara Hijau di Bulungan dirancang menjadi pusat logistik utama sekaligus penopang konektivitas menuju IKN.
Di luar sektor manufaktur dan perikanan, Kaltara juga menawarkan peluang potensial di sektor perkebunan kelapa sawit. Pemerintah daerah bahkan telah merampungkan studi kelayakan (feasibility study) untuk pembangunan pabrik minyak goreng secara mandiri.
Sebagai informasi, ajang Business Investment Expo ini turut dihadiri oleh Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla. Forum ini menjadi wahana efektif untuk memperkenalkan potensi investasi daerah sekaligus menjembatani komunikasi langsung antara investor dan pelaku usaha.
Sementara itu, puncak Rakerkonas Apindo XXXV dijadwalkan berlangsung pada Selasa (4/8/2026) melalui prosesi pembukaan resmi. Acara ini bakal dihadiri sederet pejabat tinggi negara, seperti Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menaker Yassierli, Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat, serta Menkum Supratman Andi Agtas.
Dukungan dari pihak legislatif ditunjukkan lewat kehadiran Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Turut hadir Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman selaku tuan rumah, serta jajaran pimpinan organisasi seperti Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani, Ketua Dewan Pertimbangan Apindo Sofjan Wanandi, dan Ketua DPP Apindo Sulsel Suhardi. (*)


