SOROTMAKASSAR -- Makassar.
Mulawarman seorang jurnalis senior di Sulsel, Jumat (30/07/2021) pagi di Cafe 588 Parepare mengingatkan, Makassar akan menjadi kota pertama di Indonesia sebagai Basecamp Pasien Covid-19, jika penanganannya tidak segera dibenahi.
Menurut Mulawarman, penanganan Covid-19 oleh Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman, Walikota Makassar Danny Pomanto dan kepalah daerah lainnya di Sulsel, tidak terkoordinasi bahkan bisa dikatakan tidak ada koordinasi.
"Kerjasama Pemprov, Pemkab dan Pemkot pun tidak ada. Mereka jalan sendiri-sendiri dengan programnya masing-masing dan cenderung menolak keterlibatan maupun partisipasi publik atau masyarakat," tegasnya.
Mulawarman lalu mengungkapkan bukti Pemprov dan Pemkot seperti tidak mau atau menolak pastisipasi masyarakat. Contohnya, Pemprov Sulsel seperti tidak mau tahu kehadiran tim Fakultas Kedokteran Unhas yang dibantu tim relawan Covid-19 dari UMI dan Unismuh Makassar mendapatkan tempat isolasi mandiri (isoman) baru untuk ratusan masyarakat bergejala ringan dan sedang Covid-19 yang kini antri mau masuk di Bapelkes Sudiang.
Tempat isoman pasien Covid-19 yang dibuat oleh Fakultas Kedokteran Unhas di Bapelkes Sudiang Makasaar, sejak hari kedua dibuka dua pekan lalu, sudah langsung penuh. Sampai hari ini, Jumat 30 Juli 2021, tercatat ada 241 orang dengan gejala ringan dan sedang Covid-19 antri untuk masuk di Bapalkes.
"Dan bisa diyakini jumlah yang antrian ini, akan terus bertambah karena kasus harian di Sulsel pekan depan diperkirakan akan tembus angka 2.000 orang positif Covid-19,” kata Mulawarman yang kerabat Prof Hisbullah, penanggungjawab Isoman Covid-19 Fakultas Kedokteran Unhas di Bapelkes Sudiang.
Mulawarman yang alumni Unhas ini kembali mengungkapkan, kalau tim relawan Covid-19 dari kalangan mahasiswa UMI, Unismuh Makassar dan Unhas telah menyurat dan menghubungi Pemprov maupun BUMN yang semuanya memiliki Balai Diklat untuk bisa dipakai tempat isoman Covid-19. Tetapi tak ada satupun yang merespon. Yang disurati tidak ada yang membalas, yang dihubungi hanya beri janji ke mahasiswa relawan Covid-19 dari UMI dan Unismuh Makassar.
“Surat tim di Pemprov gak jelas rimbanya dimana, karena pengakuan tim Prof Hisbullah di lapangan, sampai hari ini belum ada balasan, apalagi kontak dari pejabat Pemprov,” beber jurnalis senior ini seraya menambahkan kalau Presiden Jokowi pada 4 pekan lalu meminta semua lembaga pemerintah membantu penanganan Covid-19, seperti BUMN di Jakarta wajib menyiapkan fasilitasnya untuk menampung pasien Covid-19.
Mulawarman mengaku bisa memastikan, Gubernur dan Walikota Makassar dapat membawa Sulsel khususnya Makassar yang menjadi episentrum Covid-19 di Sulsel, menjadi kota Basecamp Pasien Covid-19 pertama di Indonesia bahkan di Asia.
“Lihat saja temuan mayat pasien Covid-19 membusuk di rumah sakit. Ini bukti bahwa jumlah kasus harian dan korban mati semakin bertambah, sehingga Ketua Satgas Covid-19 Sulsel dr Arman sendiri telah mengaku ke publik jika Satgas kewalahan,” papar Mulawarman menunjuk kasus temuan mayat pasien Covid-19 membusuk di Rumah Sakit Daya Makassar, salah satu rumah sakit milik Pemkot Makassar.
Sudirman dan Danny, lanjut Mulawarman menuturkan, bekerja menangani Covid-19 tidak berbasis ilmu pengetahuan, tetapi berbasis politik pencitraan. Sehingga, tidak ada kerjasama, tidak ada koordinasi, tidak ada tim apalagi tim yang solid.
Mereka jalan sendiri-sendiri dengan programnya dan egonya, sehingga mereka gagah-gagahan berlomba menyiapkan tempat isoman dan mobil ambulans Covid-19 untuk mendapatkan citra positif dari publik atau rakyat.
“Jangan pernah berharap Sudirman dan Pomanto rendah hati mau datang ke perguruan tinggi di Sulsel, seperti Unhas atau UMI meminta kerjasamanya menangani Covid-19 di Sulsel ini. Seperti yang ditunjukkan Gubernur DKI, Jabar, Jateng dan Jatim yang menjadikan universitas di daerahnya sebagai Think-Thank (pusat dan sumber pemikiran ilmiah) mereka menangani Covid-19 di daerahnya," tukas Mulawarman.
Mereka khususnya Danny Pomanto, masyarakatnya atau rakyatnya, rakyat Makassar yang memberi masukan dan saran, hanyalah rakyat atau publik yang sakit hati dan tidak paham persoalan sehingga banyak bicara. Narasi ini jelas tidak memberi peluang bagi publik atau rakyat Makassar bersumbangsih ikut membantu dan mendukung Pemkot Makassar menangani Covid-19 agar Makassar terbebas dari Covid-19.
“Jika Plt Gubernur dan Walikota Makassar tetap tak mau mendengar masukan, saran dan kritikan dari berbagai kalangan, sehingga tetap ngotot dan tetap fokus di hilir menunggu korban Covid-19 dari kasus harian yang terus menerus meningkat, bisa dipastikan Sulsel bakal kolaps jatuh pingsan tak berdaya dan Makassar akan dipenuhi tenda-tenda perawatan di sekitaran 7 rumah sakit pemerintah yang sudah penuh pasien dan kewalahan, sehingga layak Makassar disebut kota Basecamp Pasien Covid-19 pertama, karena memenuhi persyaratan sebuah Basecamp (tempat penampungan) seperti Basecamp pengungsi Palestina,” lanjut Mulawarman serius.
Berdasarkan data Satgas Covid-19, sambung Mulawarman lagi, Sulsel menjadi provinsi tertinggi diluar kasus positifnya dan Makassar menjadi tertinggi di Sulsel. Perharinya sudah menembus angka 1.000. Total positifnya sampai hari ini dengan jumlah kasus mencapai 82,445, jumlah yang sembuh 70.358 dan yang meninggal 1.317. Sulsel mendapatkan kasus harian hari Jumat ini sebanyak 1.082 dan kasus kematian harian 25 orang.
“Rumah Sakit sudah hampir penuh, rata-rata tingkat hunian 90 persen, sementara ruang ICU semua Rumah Sakit sudah penuh,“ pungkas Mulawarman. (*)








