Terlanjur Mudik (Bagian Pertama)


Oleh : Yudhistira Sukatanya

“Aku ingin mudik,” sontak aku jadi sasaran perundungan para karibku ketika kusampaikan pernyataan itu. “Kampungan. Tau pongorok ! Masa mau mudik saat kota kita di Lock Down ?” sergah Alim tanpa mendengar dulu alasanku. Matanya melotot, napasnya kembang kempis di balik masker kain warna hitam penutup mulut dan hidungnya.  

“Seperti bedinde saja. Mau pamer handphone baru, baju baru, tas baru, parfum baru ? Belum lunas cicilan saja mau sombong. Atau mau jadi hidden carrier yang membawa dan menularkan virus dari Wuhan itu ?,” kata Mahrus si penyuka istilah, dengan sinis.

“Heh bung ! Ini masa pandemi Covid-19. Negeri kita nyaris luluh lantak seluruh sendi kehidupannya. Bangkrut perekonomiannya, koyak kerekatan sosialnya. Belum paham dengan ancaman virus import mematikan itu ? Ribuan orang telah terjangkit, telah ratusan koit,” ujar Chae seperti galibnya penyuluh yang tertib berbahasa dan mencegah droplet percikan cairan dari mulutnya yang diduganya berpotensi mengandung virus.

“Anjo kammai garring pua ! Wabah itu sudah menginfeksi jutaan warga di ratusan negara. Kurang mengerikan apa ?,” timpal Alim si bangsawan bertubuh kurus, kutu buku.

“Terlebih lagi pada saat diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ancaman ini sudah menjema menjadi semacam monster yang mendapat kekuatan berlipat untuk menyetop seluruh dinamika kehidupan,” sambung Chae lagi.

Begitulah, mereka cerewet seperti media massa televisi, radio, sok tahu ala netizen media sosial, menakut-nakuti ala polisi India. Aku sungguh dibungkam habis oleh perlakuan mereka, tanpa diberi kesempatan menyampaikan alasan, mengapa ingin mudik.

Ngopi sore itu menjadi kali terakhir sebelum ramadhan tiba. Pada ritual rutin bareng kami itu, kopi susu terasa lebih pahit dari kopi tubruk tanpa gula.

“Besok kota dinyatakan Lock Down sudah turun SK Menteri,” kata Alim mengulangi, sambil menyerahkan masker hitam tanpa jabat tangan sebagaimana biasa.

Aku Tetap Mudik

Apa salahnya mudik ? Bertahun-tahun sudah mudik lebaran menjadi pelengkap ritual kaum urban sepertiku. Pencari makan, bagai semut yang mengepung gula di kota metro.

Dalam perjalanan, saat terkantuk, aku terkenang cerita Alim tentang garring pua. Endemi yang terjadi di Gowa masa pemerintahan Sultan Alauddin Awalul Islam. Konon, wabah itu menjangkiti ribuan rakyat secara aneh dan tiba-tiba. Kecepatan penyebarannya menakutkan. Betapa tidak, rakyat yang sakit pagi, sore meninggal dunia, begitu pun sebaliknya.

Qadi kesultanan, Datuk ri Bandang menyarankan kepada Sombayya agar melaksanakan ritual agama akarate juma. Zikir Jumat itu dilaksanakan saban bakda isya di Ballak Lompoa, dicukupi doa tobat bersama. Empat puluh hari kemudian ditemukanlah tambarak pakballe-pencegah wabah.

Ya, ritual mengingatkanku pada ustadz Amir di kampung halaman. Beliau pernah bercerita tentang mudik. Menurutnya mudik semacam istilah orang Arab pada orang Badui. Mesti dipahami sebagai pulangnya para pemberi cahaya untuk menerangi  kampung halamannya. Pulang menuntas rindu, memupus kesedihan yang memanggil-manggil, akibat terpaksa harus berpisah dengan orangtua, keluarga, sanak dan handai tolan.

Catatan : Yudhistira Sukatanya nama dalam berkarya. Nama lengkap Eddy Thamrin. Pria kelahiran Bandung 1956 di kenal sebagai penulis, sutradara dan mantan ASN (Kepsta RRI). Karyanya 3 tahun terakhir di publikasikan antara lain : Pelayaran Pinisi Peradaban - naskah pertunjukkan multimedia 2018, Akkarek-kareja Bilang - naskah drama anak-anak 2018, Ati Raja - Skenario Film 2018. (*rk)
 

Politik

Pendidikan

Opini

Berita Makassar

Kuliner Nusantara

Newsletter

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN