Terlanjur Mudik (Bagian Kedua - Habis)


Oleh : Yudhistira Sukatanya

Mudik, bagi orang kampung sepertiku adalah rangkaian ritual menyatukan diri kembali dengan seluruh makrokosmos dan metakosmos ke muasal. Semacam ritual primordial yang sulit dihilangkan.


Kalau tidak mudik maka terasa ada bagian yang hilang. Ketika mudik, kembali saling sapa, menabur bunga di kubur leluhur, main bola, mandi di sungai adalah nuansa harum bahagia tanpa padan.

Tak kalah nikmat, saat mencicipi ketupat dan coto yang dikirim sanak saudara dibulan puasa. Suatu penegasan inkulturisasi Islam dengan budaya di kampungku. Saling memberi dan berbagi dengan ikhlas.

Sungguh berdampak baik, karena mempererat tali silahturahmi, saling memberikan semangat dan motivasi untuk mengisi hari-hari di kehidupan baru di bulan Syawal mendatang.

Sungguh, aku menjalankan ritual mudikku demi menjaga amanah sebagaimana perintah Al Quran surah Lukman : 14, "Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu lah kembalimu."

Bagiku, mudik sudah bertahun kutunaikan mengajarkan bahwa bersilaturahmi memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Sebagaimana hadis riwayat Muslim,  Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahmi".

Ya, apa salahnya dilakukan selagi ada kesempatan dan kemampuan. Saat mudik lebaran, seseorang dapat memperbahrui hubungan sosial. Terbuka luas kesempatan bersedekah, mengeluarkan zakat fitrah dan zakat mal kepada keluarga dan warga di kampung halaman.

Inilah cara menjaga, merawat dan memupuk persatuan dan kesatuan. Mudik peristiwa yang tidak bisa dinilai dengan pengorbanan harta dan tenaga. Mudik dapat mengubah perilaku individualistik manusia menjadi rahmatan lil alamin, mewujudkan jalinan hablun minannas melalui silaturahim Idul Fitri. Begitu sarat kebajikan yang bisa diperoleh dari mudik.

“Ya Allah. berikanlah kesempatan padaku untuk bertemu dan minta maaf kepada orang tuaku. Aku ingin memeluk dan mencium ibu, ibuku, ibuku, ayah dan adik-adikku dengan cinta. Aku ingin mencium harum tangan ustadzku. Aku sungguh ingin memeluk erat sahabat-sahabat semasa kecilku. Ya Allah, aku sungguh ingin menikmati ramadan, saat-saat indah beribadah dengan doa khusyuk bersama orang-orang tercinta. Berkahilah pertemuan kami.”

Setiba di teminal, seseorang menghampiri dan membagikan lembar copyan untukku. Ketika kubaca, ternyata semacam peringatan sebagaimana pernah diingatkan pada masa Usamah bin Zaid RA, Nabi SAW pernah bersabda : "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di suatu tempat sedang kamu berada di dalamnya, maka kamu jangan keluar dari tempat itu." (HR Imam al-Bukhari).

Aku dengar suara-suara itu, aku dengar. Tapi, aku telanjur disini. Mudik.

Laal lakum tattaqun.

Tamamaung, Jelang Ramadan 1441 Hijriah, 2020.

Catatan : Yudhistira Sukatanya - nama dalam berkarya, nama lengkap Eddy Thamrin. Pria kelahiran Bandung 1956 di kenal sebagai penulis, sutradara dan mantan ASN - Kepsta RRI. Karyanya 3 tahun terakhir di publikasikan Al : Pelayaran Pinisi Peradaban - naskah pertunjukkan multimedia 2018, Akkarek-kareja bilang - naskah drama anak-anak 2018, Ati Raja - Skenario Film 2018, Noni Societeit de Harmonie - Novel 2018, Ingat Lisa - Lihat Sampah Ambil - naskah drama anak-anak 2019, Puang Sang Pemburu - Drama 2019, Poppo - Bukan Wanita Pilihan - Skenario Film 2020. (*rk)

Politik

Pendidikan

Opini

Berita Makassar

Kuliner Nusantara

Newsletter

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN