SOROTMAKASSAR -- Makassar.
Kisah-kisah dalam karya monolog ini menyoroti karakter wakil-wakil rakyat yang memiliki moral buruk untuk meraih kekuasaan. Kesalahan dijadikan kebenaran, bahkan perilaku menyimpang untuk ketenaran politik dibiarkan terjadi. Rakyat diperalat untuk meraih tahta atas nama rakyat.
Panggung Politik dalam pertunjukan monolog ini, berlangsung dari tanggal 4 s/d 8 April 2019 di Gedung Kesenian Societeit De Harmonie, dan menampilkan 6 karya. Malam ke-3 pertunjukan menampilkan judul 'Nyonya Juga Caleg' karya Lily Yulianti, Aktor dan Sutradara Luna Vidya.
'Nyonya Juga Caleg' adalah potret dari komponen sumber daya manusia yang terlibat dalam dinamika pemilu, secara khusus pemilihan legislator serta ruang pembiayaan politik. Tokoh nyonya adalah karikatur perempuan yang memasuki ranah politik demi terpenuhinya kuota 30% partai, dan karena kepejabatan suami, nama besar atau silsilah.
Sedang di sisi lain, ada juga orang-orang seperti Sila, yang pengetahuannya dan daya analisis akan situasi politik saat ini digunakannya sebagai modalitas pekerjaan yang belakangan ini nge-trend, manager kampanye.
Kutipan sinopsis monolog 'Nyonya Juga Caleg'. Menurut Luna Vidya, Harusnya pemilu itu mencerdaskan. Monolog ini hanya mau mengingatkan orang bahwa seharusnya perempuan yang duduk di legislatif karena dia memang pantas disana, bukan karena faktor-faktor lain.
Usai menyaksikan penampilan Aktor Luna Vidya, salah seorang Penulis dan Sutradara Yudhistira Sukatanya memberikan tanggapan, pertunjukan menarik yang dimainkan dengan luar biasa. Surprise. Andaikan saja pertunjukan Luna dapat disaksikan oleh para caleg dan master campaignnya, saya yakin akan menemukan jalan literasi yang cerdas.
Hal lain, Indah Pratiwi, seorang mahasiswa pun memberikan komentar, saya tertarik dengan properti yang digunakan sang aktor, beberapa amplop. Kesannya, nyonya juga caleg ini akan memberikan uang. Ternyata isinya puisi "Anda pilih saya nanti saya kasih voucer". (rk)


