Pembinaan Karakter Peserta Didik Daerah Pedesaan di Kabupaten Gowa

Pin It

Oleh : Miguel Dharmadjie, ST, CPS® (Penyuluh Agama Buddha Non PNS dan Praktisi Pendidikan)

SETELAH kegiatan Pembinaan Karakter Peserta Didik Moderasi / Latih Diri Agama Buddha di Kota Makassar, kini Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan mengadakan kegiatan Pembinaan Karakter Peserta Didik Daerah Pedesaan di Kabupaten Gowa yang berlangsung di SMB Ratana Joti Mawang, Kelurahan Romang Lompoa, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Minggu (11/10/2020).

Kegiatan yang bertema "Praktik Dhamma sebagai Dasar Tumbuhnya Saddha / Keyakinan Siswa" ini untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap agama Buddha dan memiliki karakter sebagai siswa buddhis serta diikuti 35 orang peserta dari Sekolah Minggu Buddha (SMB) Ratana Joti Mawang.

Kegiatan pertama program Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI untuk daerah pedesaan ini bertujuan untuk meningkatkan saddha / keyakinan siswa-siswi Buddhis terhadap ajaran Sang Buddha, menanamkan nilai-nilai ajaran Buddha terhadap siswa-siswi buddhis serta meningkatkan pemahaman dan pengetahuan moderasi beragama terhadap siswa-siswi Buddhis.

Pembukaan kegiatan pembinaan dalam bentuk pemaparan materi dari narasumber, diskusi dan tanya jawab ini dilakukan oleh Pembimas Buddha Sulsel Pandhit Amanvijaya, S.Ag, MM, M.Pd.B selaku penanggungjawab kegiatan.

Pembimas Buddha Sulsel dalam materi "Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan Siswa" mengatakan, Moderasi Beragama adalah cara pandang, sikap dan perilaku beragama yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah. Bukan agama yang dimoderasi, tetapi cara kita beragama yang perlu dimoderasi. Landasan Buddhis tentang moderasi beragama adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan yang dikenal sebagai Jalan Tengah.

Ada empat indikator moderasi beragama, yaitu : komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Sedangkan nilai moderasi beragama adalah adil dan berimbang.

Tujuan moderasi beragama dan wawasan kebangsaan adalah agar peserta didik memiliki kesalehan beragama dan kesalehan bernegara serta penanaman sikap dan membudayakan moderasi beragama dan wawasan kebangsaan yang merupakan niat dan kepedulian bersama.

"Jangan lupakan budaya bangsa yang sarat dengan nilai luhur di tengah perkembangan teknologi. Teruslah berinovasi karena budaya bangsa dapat sejalan dengan kemajuan jaman," pesan Pembimas.

Sebagai pemateri kedua, kami mendapat kepercayaan membahas materi "Penanaman Nilai-nilai Agama Buddha Dalam Pembentukan Karakter Siswa". Karakter adalah watak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas tiap individu. Nilai-nilai karakter berbasis agama dapat membantu dalam pembentukan kepribadian yang baik, termasuk ajaran agama Buddha yang menempatkan pendidikan karakter sebagai landasan penting untuk membentuk perilaku baik.

Inti pembentukan karakter dalam Buddhis : tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan dan membersihkan batin. Karakter dalam buddhis adalah upaya mendidik seseorang untuk memiliki karakter yang baik, yaitu : bermoral (silava), bijaksana (pannava), berjalan sesuai Dhamma (dhammika), dan orang yang baik (sappurissa).

Kebiasaan seseorang dalam berpikir, berucap dan bersikap akan menjadi watak sebagai ciri khas karakteristik seseorang. Untuk itu sebagai siswa Buddha hendaknya memiliki tekad untuk dengan penuh hormat mempelajari Dhamma, dengan penuh semangat mempraktikkan Dhamma serta dengan penuh bijaksana menerima buah karma sesuai dengan benih yang ditabur.

Pemateri terakhir Atthasilani Acalasarani dengan materi "Implementasi Praktek Ajaran Buddha Bagi Siswa" membahas tentang etika dan moralitas. Etika adalah nilainya sedangkan moralitas adalah tindakannya. Etika dan moralitas saling berkaitan erat satu dengan yang lain.

Etika menurut ajaran Buddha dimana suatu perbuatan dikatakan baik atau buruk tergantung pada keadaan pikiran pelaku. Moralitas adalah sifat, karakter, watak, kebiasaan perilaku, kelakuan. Sedangkan sila adalah latihan moral, pelaksanaan moral, perilaku baik, etika buddhis dan moralitas.

"Dengan mengerti etika dan moralitas dengan baik diharapkan peserta didik menjadikan sila sebagai "pagar pelindung" untuk tidak melakukan pelanggaran sila. Sebaliknya dapat mempraktikkan sila dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari," kata Atthasilani. (***)
 

Top Hit

Politik

Pendidikan

Opini

Berita Makassar

Kuliner Nusantara

Newsletter

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN