SOROTMAKASSAR -- MAKASSAR, Di sebuah warung pallubasa ( Pallubasa Suzuki ) yang tak pernah benar-benar sepi, pertemuan itu terjadi tanpa rencana. Seperti sendok yang tak pernah tahu mangkok mana yang akan dipeluknya, lelaki itu duduk dengan langkah ragu, sementara perempuan itu datang dengan mata bening dan senyum yang masih utuh oleh pengalaman.
Ia seorang duda. Usianya matang, langkahnya tenang, tapi ada gurat sepi yang belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. Hidup telah mengajarinya banyak hal: tentang kehilangan, tentang menerima, tentang pulang ke rumah yang tak lagi berpenghuni tawa.
Sementara di hadapannya, duduk seorang perawan tingting—tubuhnya sedikit padat, tawanya ringan seperti bunyi sendok beradu dengan mangkok. Ia masih membawa aroma masa depan: cita-cita yang belum selesai, impian yang belum terjamah, dan keyakinan bahwa cinta selalu datang pada waktu yang tepat.
Pertemuan mereka sederhana. Tak ada bunga, tak ada musik, hanya uap panas pallubasa yang mengepul dan aroma rempah yang merayap pelan di antara jarak dua kursi plastik.
“Ada yang kosong?” tanya lelaki itu, menunjuk kursi di depan perempuan tersebut.
Perempuan itu mengangguk. “Silakan.”
Begitulah, seperti sendok menemukan mangkoknya.
Warung itu riuh oleh percakapan, tapi di meja kecil mereka, waktu seakan berjalan lebih lambat.
Lelaki itu memesan pallubasa dengan tambahan kuning telur ( alas ). Perempuan itu memesan biasa saja—tanpa jeroan, tanpa tambahan apa pun.
“Biar ringan,” katanya sambil tersenyum.
Lelaki itu tertawa kecil.
“Kadang yang ringan justru paling mengenyangkan.”
Mereka tak sedang menggoda.
Hanya dua manusia yang kebetulan duduk berhadapan, berbagi meja, berbagi sambal, berbagi tisu.
Sendoknya jatuh lebih dulu ke dalam mangkok. Kuah kental berwarna cokelat keemasan itu bergetar pelan. Perempuan itu memperhatikannya sesaat, lalu ikut menyendok perlahan.
Ada sesuatu yang serasi di sana.
Seperti sendok dan mangkok—yang satu tak lengkap tanpa yang lain. Sendok boleh berkilau sendiri di laci dapur, tapi ia baru benar-benar berarti ketika menyentuh dasar mangkok.
Mangkok boleh indah tersusun di rak, tapi ia baru berguna ketika ada sendok yang mengaduk isinya.
Begitu pula mereka.
Lelaki itu membawa pengalaman.
Perempuan itu membawa harapan.
Lelaki itu tahu bagaimana rasanya kehilangan. Perempuan itu belum pernah benar-benar kehilangan apa pun. Ia masih percaya semua cerita berakhir bahagia. Lelaki itu tahu, kebahagiaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.
“Bapak sering makan di sini?” tanya perempuan itu.
“Dulu sering. Sekarang… baru kembali lagi.”
“Kembali?”
“Iya. Kadang orang perlu waktu untuk berani datang lagi ke tempat yang pernah menyimpan kenangan.”
Perempuan itu terdiam. Ia tak sepenuhnya mengerti, tapi ia mencoba memahami. Matanya lembut, tak menghakimi, tak pula tergesa-gesa menyimpulkan.
Jelang buka puasa, Makassar mulai gelap. Suara motor dan klakson bercampur dengan teriakan pelayan yang mengantar pesanan. Tapi di meja itu, percakapan mereka mengalir pelan seperti kuah pallubasa yang menghangatkan perut.
Lelaki itu tak lagi terlihat setua tadi. Perempuan itu tak lagi tampak sekadar gadis muda. Di antara mereka ada ruang yang pelan-pelan terisi oleh cerita—tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang cita-cita sederhana seperti memiliki rumah kecil dengan halaman yang cukup untuk menanam cabai dan kemangi.
Pandangan mereka beberapa kali beradu tanpa sengaja.
“Maaf,” kata perempuan itu.
“Tidak apa,” jawab lelaki itu sambil tersenyum.
Kadang, pertemuan memang sesederhana itu. Tak perlu direncanakan, tak perlu dibumbui janji. Cukup duduk bersama, makan semangkok pallubasa, dan membiarkan waktu bekerja dengan caranya sendiri.
Ketika mangkok mereka mulai kosong, tak satu pun dari mereka ingin segera berdiri. Ada jeda yang manis, seperti sisa kuah di dasar mangkok yang sayang ditinggalkan.
“Apa kita akan bertemu lagi?” tanya perempuan itu pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Lelaki itu menatap mangkoknya, lalu menatap perempuan itu.
“Kalau sendok dan mangkok dipertemukan sekali, biasanya mereka akan bertemu lagi di dapur yang sama.”
Perempuan itu tersenyum. Kali ini lebih dalam.
Di warung pallubasa itu, tak ada yang tahu bahwa sebuah kisah baru sedang dimulai. Kisah tentang dua jiwa yang berbeda musim, tapi menemukan hangat yang sama.
Seperti sendok dan mangkok.
Tak pernah dirancang untuk bersama, tapi selalu saling melengkapi ketika waktu mempertemukan. ( Ardhy M Basir )








