WRI Indonesia Diskusi Bersama Media Menyoroti Mobilitas Berkelanjutan di Kota Makassar

SOROTMAKASSAR - Makassar.

World Resources Institute (WRI) Indonesia sebagai lembaga penelitian indenpenden mengundang beberapa media online dalam kegiatan Diskusi Media tentang Transportasi Berkelanjutan Kota Makassar, di Cafe Muda Mudi Jalan Lanto Dg. Pasewang Kota Makassar, Minggu (26/5/2024).

Dihadiri 12 Media online pun dari pihak WRI Indonesia. Di awal acara Luna Vidya selaku salah satu konsultan sekaligus memandu dengan menjelaskan kegiatan diskusi ini sebagai program rutin WRI di Kota Makassar.

Setelah perkenalan beberapa media dan tim dari WRI dengan penjelasan tentang WRI Indonesia selanjutnya Dimas Nu'man Fadhil selaku pimpinan WRI Indonesia menyajikan materi terkait tema tersebut, dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa WRI Indonesia sudah 3 tahun melakukan penelitian terkait penataan kota di Kota Makassar bekerjasama dengan Pemkot Makassar dan stakeholder lainnya.

“Tahun 2024 ini di fokuskan pada Mobilitas Berkelanjutan di Kota Makassar dengan pertimbangan bahwa Makassar merupakan kota terbesar di Kawasan Indonesia Bagian Timur, Makassar merupakan kota yang potensial untuk bisnis, salah satu kota maju di Indonesia dan Makassar memiliki posisi strategis,"ujar Dimas menambahkan, berbagai potensi yang dimiliki Kota Makassar untuk menjadi Kota Masa Depan yang ideal salah satu syaratnya adalah terkait Mobilitas Berkelanjutan

“Inilah tujuan kita bertemu dan berdiskusi hari ini untuk mendengar masukan dan membahasnya bersama teman-teman media di Kota Makassar terkait Mobiktas Berkelanjutan" ungkap Dimas mempertegas tujuan kegiatan diskusi ini.

Lebih lanjut Dimas mengatakan, Makassar selaku kota besar dan memiliki wilayah yang berada di kepulauan yaitu Kecamatan Sangkarrang dengan tiga kelurahan di dalamnya. Harus memiliki strategi untuk melakukan revitaliaasi sistem transportasi umum yang terus berkembang untuk menjadi sebuah kota masa depan di Indonesia dan Dunia.

Pada sesi diskusi yang dipandu Zulkarnain Hamson meneknkan kepada rekan media untuk mengambil peran aktif dalam nengangkat isu strategis ini dalam berita sehingga pemerintah dan masyarakat menjadi lebih paham terhadap urgensi Mobilitas Berkelanjutan ini di Kota Makassar.

Beberapa awak media sependapat dan menyoroti tentang berbagai hal yang terkait dengan trasnportasi massal di Kota Makassar, seperti Program Kawan Bus dari Kementerian Perhubungan RI yang dioperasikan di Kawasan Mamminasata (Makassar, Gowa Maros dan Takalar) cenderung menjadi program yang gagal setelah beroperasi 3 tahun terakhir ini. Hal ini ditandai dengan kurangnya minat masyarakat untuk memanfaatkan layanan tersebut pun adanya rute yang dikurangi operasinya, hal ini memberikan memberikan gambaran bahwa tujuan untuk menekan kendaraan pribadi yang diganti menjadi kendaraan publik (massal) belum terwujud hingga tahun 2024 ini.

Sementara perwakilan media SorotMakassar.Com pada sesi diskusi menyoroti berbagai hal terkait mobilitas berkelanjutan di Kota Makassar. Salah satunya visi Kota Makassar untuk menjadi Kota Dunia dan Smart City sepertinya masih sulit terwujud karena sistem mobilitasnya yang masih semrawut dan belum terbenahi apalagi kalau dikaitkan dengan isu lingkungan yaitu emisi yang rendah.



“Kemacetan masih menjadi permasalahan utama yang belum mendapatkan solusi dalam menguraihal tersebut sehingga merugikan semua pihak, khususnya perekonomian daerah karena terganggunya arus distribusi barang dan jasa yang diakibatkan kemacetan,”kata awak media SorotMakassar.Com.

Lebih jauh Media SorotMakassar.com yang juga menjadi sorotan dibukanya secara luas tanpa pengurangan pembatasan izin operasi kendaraan umum (sewa jasa mobil dan motor secara online dan terakhir muncul bemo online). Kesemuanya menjadi pemicu meningkatnya jumlah kendaraan yang beroperasi di jalan tanpa dibarengi pertumbuhan ruas jalan (geometrik jalan).

Hal lainnya yang menjadi perhatian kita, pembiaran parkir liar salah satu penyebab kemacetan, parkir liar massif dan nyata terjadi di depan mata yang meggunakan badan jalan sebagai area parkir, celakanya Pemkot Makassar seakan membiarkan hal itu terjadi bahkan berlarut-larut, termasuk fungsi pengawasan DPRD Kota Makassar terkesan lemah.

“Berdasarkan hal itu maka tujuan untuk menjadikan Kota Makassar sebagai Kota Dunia dan Smart City menjadi tidak jelas, indikator dan data empiris yang kami uraikan di atas menunjukkan bahwa untuk membawa Makassar sebagai Kota Dunia dan Smart City menjadi tidak jelas, menurut penilian kami saat ini di tahun 2024 Makassar tidak 'pintar-pintar amat' apalagi untuk menjadi Smart,"pungkas perwakilan SorotMakassar.Com.

Diakhir diskusi, sebelum penutupan, Luna Vidya menegaskan kepada awak media untuk menjadikan daerah kepulauan Kota Makasaar sebagai objek berita sehingga isu-isu penanganan transportasi wilayah kepulauan terangkat dan menjadi wacana umum sehingga dapat ditemukan solusi yang ideal sehingga ketertinggalan wilayah kepulauan Makassar dapat di atasi. (A2.pawe/rk).

Politik

Pendidikan

Opini

Kuliner Nusantara