Obituari Alfian Ali Nompo : Kami Merambah Jarak 1.775,2 Km

Pin It

 

Oleh : M. Dahlan Abubakar

TEPAT dua minggu -- Senin (20/07/2020) -- setelah wartawan senior Andi Burhanuddin Amin berpulang ke rakhmatullah, Senin (03/08/2020) seorang rekan wartawan, Alfian Ali Nompo, juga menyusul bertemu Al Khalik.

Almarhum pernah tercatat sebagai wartawan Koran Kampus “Profesi” Universitas Negeri Makassar (UNM), sebelum bergabung dengan Harian Pedoman Rakyat (PR) beberapa tahun kemudian.

Setelah PR tiada, dia bergabung dengan teman-temannya di Media Online SOROTMAKASSAR.COM pimpinan James Wehantouw. Almarhum berpulang di usia 52 tahun dengan meninggalkan seorang isteri, Nurmiyati, dan seorang anak, Muh. Wahyu Satria yang kini melanjutkan pendidikan di Yaman.

Saya mengenal almarhum berawal pada 2 Februari 1995. Pada hari itu, belasan wartawan Sulawesi Selatan melakukan perjalanan bersejarah dalam hidup mereka, merambah jarak 1.775,2 km dari Makassar ke Manado menggunakan kendaraan darat, bus.

Rombongan yang mengenakan rompi dan topi loreng hijau, dilepas Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Tamlicha Ali dan Ketua PWI Sulsel H. M. Alwi Hamu di Balai Wartawan Jl. Penghibur, Ujungpandang, pagi hari kedua (2 Februari 1995) bulan Ramadan.

Saya sudah tidak ingat tepat hari ke berapa Ramadan, ketika rombongan mulai merambah jarak sejauh itu dalam empat etape, Ujungpandang-Makale (Tana Toraja), Mangkutana (Luwu), Palu (Sulawesi Tengah), Gorontalo (Sulawesi Utara), dan Manado (Sulawesi Utara).

Di dalam rombongan yang masih saya ingat, ada dua perempuan, yakni Umi Tjende (Wartawati Wanita Indonesia), A.Tenri Pallalo (Harian Fajar). Kemudian, Waspada Santing (Fajar/Gatra), Syafruddin Tang (alm, Harian Pedoman Rakyat), Andi Pasamangi Wawo (Mingguan Posma Makassar), Mukramal Azis, Alfian Ali Nompo (Media Kampus “Profesi” IKIP/UNM), Usamah Kadir (Mingguan Bina Baru), Piet Heriyadi Sanggelorang (Fajar), Usman Ady (Tegas), Buyung W. Kusumah, Sukriansyah S.Latief (Fajar), Siradjuddin Amri, Sarul (Terbit).

Menumpang bus ¾ tersebut, rombongan meninggalkan Ujungpandang menuju etape pertama, Makale Tana Toraja. Rombongan mampir menunaikan salat Zuhur yang dijamak dengan Ashar di salah satu masjid di Kelurahan Lawawoi, sekitar 167 km dari Kota Makassar yang terkenal dengan makanan burung ciwiwik (sejenis burung itik hutan)-nya.

Sudah di ambang sore, menjelang masuk Kota Enrekang, tiba-tiba salah satu ban mobil meletus. Almarhum dan teman-teman mencari kesibukan sendiri-sendiri menunggu sopir dan kerneknya memasang ban pengganti. Ada juga teman yang “terkapar” di pinggir jalan karena lelah berpuasa. Ini merupakan tes pertama bagi mereka yang muslim apakah mampu bertahan puasa dalam perjalanan melintasi jarak 310 km hingga ke Makale, Tana Toraja pada hari itu.

Serombongan penari khas daerah Toraja menyambut rombongan tepat saat magrib di rumah jabatan Bupati Toraja. Dr.Tandi Roma Andilolo yang dosen Sosiologi Unhas memimpin kabupaten pariwisata utama di Sulawesi Selatan itu. Saya kenal baik dan dekat dengan beliau, sama akrabnya dengan “saudara lain ibu”-nya yang memimpin Kabupaten Wajo, Dr. Ir. Radi A. Gany (alm).

Mereka ini adalah dua putra terbaik Unhas yang diminta mendiang Prof. Dr. A. Amiruddin (Gubernur Sulsel 1983-1993) memimpin daerahnya masing-masing hanya satu periode.

Makale Tana Toraja adalah etape pertama dari lima etape yang harus kami selesaikan hingga Manado. Saya mengirim berita pertama dari Makale melalui faksimili bermodalkan mesin ketik brother hadiah juara I lomba menulis di Makassar beberapa tahun sebelumnya. Di antara belasan wartawan yang ikut Ekspedisi Trans Sulawesi ini hanya saya yang membawa mesin ketik.

Setiap tiba di etape, setelah buka puasa, pekerjaan saya berikutnya adalah mengirim berita melalui saluran komunikasi yang ada. Jika tidak ada saluran faksimili, saya menggunakan jalur telepon melalui warung telekomunikasi (wartel). Biar irit, tentu saja informasinya hanya intinya saja yang disampaikan ke redaksi di kantor di Ujungpandang.

Selain menginap di setiap etape, rombongan juga menunaikan ibadah puasa yang diawali dengan makan sahur. Bahan makan sahur disediakan hotel tempat menginap atau dalam bentuk nasi bungkus yang dibagikan ke setiap anggota rombongan.

Keesokan harinya, hari kedua, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Mangkutana Kabupaten Luwu (kini Kabupaten Luwu Utara) bertepatan dengan almanak menunjuk 3 Februari 1995. Jarak Makale dengan Mangkutana 212 km, sehingga total perjalanan kami hingga hari kedua berjarak 522 km dari Kota Makassar melalui Rantepao, Tana Toraja (kini Toraja Utara).

Menjelang magrib, kami tiba di salah satu penginapan di sebelah kanan jalan menjelang pendakian menuju Pendolo, Sulteng. Penginapan ini sudah disiapkan Bupati Luwu, M. Yunus Bandu. Seperti biasa, usai berbuka puasa, saya sibuk mencari wartel untuk mengirim berita lagi. Jadi, setiap etape, di Harian Pedoman Rakyat selalu ada laporan perjalanan yang saya tulis, sehingga pembaca tahu pergerakan rombongan termasuk situasi selama perjalanan.

Pagi hari ketiga (4 Februari 1995) menjelang menuju Palu melalui Poso, Bupati Luwu M. Yunus Bandu hadir di penginapan. Beliau juga memberikan kami uang minum kopi selama di perjalanan yang sebenarnya tidak pernah kami singgahi. Pak Yunus Bandu melepas rombongan di sebuah jembatan kecil, yang di bawahnya mengalir air yang jernih. Bahkan, rombongan sempat mengabdikan diri bersama Pak Yunus Bandu di salah satu bagian jembatan dengan latar belakang sungai.

Perjalanan berikutnya etape ketiga, Palu. Jarak Mangkutana-Palu 346 km, sehingga total dari Makassar, 868 km atau 539 mil. Rombongan mampir di sebuah masjid di Kota Poso untuk menunaikan salat Zuhur yang dijamak lagi dengan Ashar. Kota Poso masih aman jika dibandingkan tiga tahun kemudian (1998), saat terjadi konflik yang sangat kompleks karena bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) berbaur dengan masalah politik dan ekonomi.

Dari Poso rombongan melintas di Kebun Kopi, satu kawasan yang terdapat jalan di lereng yang curam yang kerap longsor sehingga menimbulkan kemacetan. Jika terjadi longsor, kendaraan harus buka tutup dari kedua arah. Ini menyebabkan perjalanan menyita waktu lama di daerah tersebut. Untung waktu itu, perjalanan kami aman-aman saja, sehingga dapat tiba di Palu tepat menjelang buka puasa.

Wali Kota Palu, Rully Lamadjido menjamu rombongan di salah satu rumah makan di pinggir pantai ke arah Donggala selatan. Usai acara buka puasa, saya bergegas mengetik berita dan segera mencari wartel tempat mengirim berita faksimili, tidak jauh dari Hotel Palu Golden, tempat kami menginap satu setengah malam.

Di Palu, rombongan menghabiskan satu setengah malam dan satu hari. Saat menginap di Hotel Palu Golden inilah, saya kenal dekat dengan almarhum Alfian bersama Mukramal, dua wartawan kampus yang ikut dalam tour jarak jauh dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) di Manado itu.

Keesokan harinya (5 Februari 1995) pagi, saya bersama Waspada Santing memanfaatkan kesempatan untuk melihat lokasi eksekusi terpidana mati Kacong Laranu di bagian atas Kota Palu bagian Barat. Sebelum ke lokasi itu, terlebih dahulu, kami yang diantar rekan Maxi Wolor, wartawan Surya Palu, yang pernah bekerja di Harian Pedoman Rakyat, menziarahi makam Kacong tidak jauh dari pinggir kota Palu.

Di lokasi eksekusi, saya mencoba memanfaatkan keterangan Maxi Wolor untuk merekonstruksi kembali jalannya “pembunuhan berencana” oleh pemerintahan tersebut. Maxi, termasuk salah seorang dari beberapa wartawan yang sempat “mengintai” pelaksanaan hukuman mati yang oleh almarhum Asdar Muis RMS dalam novelnya dijuluki sebagai “Eksekusi di Subuh Hari” itu. (selengkapnya kisah eksekusi ini baca tulisan berikutnya)

Saya mulai bertanya pada Max, lokasi para petembak yang berjumlah satu regu. Pada satu-satunya batang pohon yang sudah “babak belur” oleh hantaman peluru, saya menghitung “luka” bekas hantaman peluru yang dilepaskan para petembak. Luka itu menunjukkan jumlah peluru menembus tubuh Kacong. Saya menghitung ada dua bekas hantaman peluru yang tampak di batang pohon Jawa itu. Saya juga mengukur jarak antara dua bekas hantaman peluru itu.

Laporan pandangan mata ke lokasi eksekusi mati ini saya muat di Harian “Pedoman Rakyat” sekembali dari Manado. Salah seorang teman dosen di Akademi Sekretari dan Manajemen Indonesia (ASMI) Publik Ujungpandang membaca tulisan itu. Dia berkomentar begini, "beraninya Pak Dahlan menyaksikan eksekusi mati itu”. Saya sempat bertanya, di mana Ibu tahu. Dia menjawab, membacanya di koran Pedoman Rakyat.

Saya pun menjelaskan, hukuman mati itu sudah berlangsung sekitar dua minggu ketika saya mendatangi lokasi eksekusi. Saya hanya merekonstruksi kembali jalannya eksekusi berdasarkan ingatan salah seorang dari beberapa teman wartawan yang mengintai jalannya eksekusi mati di depan regu tembak tersebut. Barulah dia paham apa yang terjadi. Saya berguman, itulah kemampuan seorang wartawan mendeskripsi sesuatu, seolah-olah dia atau pembaca hadir sendiri di lokasi kejadian perkara.

Kami hanya menikmati acara buka puasa di hotel. Sehabis makan sahur kedua, kami berkemas memulai melanjutkan perjalanan menuju etape ke-4, Palu-Gorontalo. Rombongan sengaja bergerak cepat meninggalkan Palu selagi hari masih gelap (6 Februari 1995) untuk mengejar buka puasa di Gorontalo. Jarak Palu ke Gorontalo 496,6 km dan itu bisa ditempuh sekitar 13-14 jam. Apalagi rute yang dilalui mendaki dan kemungkinan hambatan di jalan selalu ada.

Setelah melewati Tugu Khatulistiwa, dan sudah dalam posisi lurus ke timur, arah Gorontalo, hari sudah siang ketika itu, ban mobil bocor lagi. Satu unit mobil yang membawa teman-teman anggota PWI Sulawesi Tengah sudah melaju lebih dulu menuju Gorontalo. Kami turun dari mobil menunggu ban mobil yang bocor diganti.

Mobil pun meluncur lagi dan sesuai jadwal, rombongan harus tiba menjelang acara buka puasa di rumah jabatan Wali Kota Gorontalo. Pasca-makan malam, kami terpencar menuju penginapan masing-masing yang sudah diatur oleh pihak tuan rumah. Saya seperti biasa, mengetik berita lagi, kemudian segera menuju Kantor Telkom untuk mengirim berita melalui faksimili.

Mengirim berita dari Gorontalo rasanya lebih enjoy karena saya tidak terlalu stres menunggu giliran memasukkan naskah yang akan dikirim. Masalahnya, pengguna faksimili masih sangat langka. Warga setempat lebih banyak menggunakan telepon interlokal. Pasalnya waktu itu, belum ada gawai (handphone).

Jika dihitung dari Makassar, hingga di Gorontalo perjalanan kami sudah mencapai 1.364,6 km. Rombongan masih menyisakan jarak sejauh 401,6 km untuk mencapai Manado, etape ke-5, finis Trans Sulawesi HPN 1995 ini.

Tanggal 7 Februari 1995 hari masih pagi, ketika rombongan sudah ada di atas bus ¾ yang menemani dalam duka 2 kali pecah ban dari Makassar menuju Manado. Ternyata, untuk ketiga kalinya ban mobil pecah lagi menjelang masuk Bolaang Mongondow, 211,8 km dari Gorontalo. Perjalanan masih tersisa 198,8 km menuju Manado.

Mobil bergerak lagi. Teman-teman PWI Sulteng yang menggunakan satu mobil Kijang sudah melaju di depan dan menunggu kami di salah satu rumah makan yang kebetulan terbuka. Kami mampir menunaikan salat Zuhur dan dijamak dengan Ashar, sepert biasa.

Sesuai jadwal, magrib kami harus tiba di salah satu hotel di Kota Manado untuk berbuka puasa, sebelum terpencar ke satu penginapan yang sudah disiapkan. Saya kembali membereskan berita untuk dikirim ke Makassar, melaporkan etape terakhir perjalanan yang melelahkan dan mengesankan ini.

Saya mencatat, selain dengan Waspada, saya tidak tahu siapa lagi yang bertahan menunaikan ibadah puasa selama perjalanan panjang menyusuri dari ujung ke ujung Pulau Sulawesi tersebut.

Suasana ceria almarhum bersama rombongan tampak jika hari masih pagi selama perjalanan. Begitu siang hari kalau tidak ada suara dari almarhum di kursi belakang. Itu tanda teman-teman kompak semua ngorok.

Dan, perjalanan sejauh 1.775,2 km ini merupakan awal almarhum membidik media umum. Alfian pun bergabung dengan saya dan teman-teman lainnya di Harian “Pedoman Rakyat” hingga media itu tidur panjang 2007. Selamat jalan sahabat. (*)

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN