SOROTMAKASSAR - MANOKWARI.
Genderang persaingan sengit antarduta suara dari 38 provinsi resmi bertalu dalam 12 kategori yang dilombakan pada ajang bergengsi "Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026". Sejak Senin (22/6/2026) pagi hingga malam, atmosfer kompetisi yang spektakuler sudah terasa kental di berbagai sudut Kota Manokwari, Papua Barat.
Memasuki hari pertama kompetisi, Kontingen Pesparawi Sulawesi Selatan (Sulsel) langsung menggebrak dengan turun di 4 kategori sekaligus: Paduan Suara Anak (PSA), Vokal Grup (VG), serta Solo Anak (SA) untuk kategori usia 7-10 tahun dan 11-15 tahun. Hasilnya pun luar biasa, para duta suara Sulsel sukses memukau publik lewat performa vokal emas yang berkelas.
Aksi panggung yang penuh karisma, koreografi yang kreatif, serta balutan busana adat bernuansa magis khas Bumi Sawerigading membuat penampilan putra-putri Sulsel di keempat kategori tersebut panen pujian. Gemuruh tepuk tangan penonton yang memadati arena perlombaan seolah tak henti-hentinya membahana.
Pada kategori Solo Anak usia 7-10 tahun, Janette Kirana Ratu Ramba tampil penuh percaya diri di bawah lampu sorot Auditorium PKK Provinsi Papua Barat sekitar pukul 09.47 WIT. Langkah kecilnya di panggung megah itu kian mantap berkat iringan piano dari musisi kawakan Makassar, Eveline Maria Philips, ST.
Tampil anggun dengan busana hijau muda bermotif bunga putih, solois cilik bernomor undian 14 utusan LPPD Kota Makassar ini sukses memikat dewan juri yang digawangi Bornok Hutauruk, Ray Tambunan, dan Agustina Raru. Dua tembang rohani, yakni lagu wajib "Puji Tuhan Selalu" (Thea Kezia Lovena) dan lagu pilihan "Haleluya Ku Bersuka" (Linda Sitinjak), dilahapnya dengan sempurna.
Bergeser ke kategori Solo Anak Usia 11-15 Tahun yang digelar malam hari, dan sekitar pukul 19.00 WIT, giliran Catherine Theresia Korompis (15) yang unjuk gigi. Siswi kelas 3 SMP Negeri 3 Makassar yang juga utusan LPPD Kota Makassar ini tampil memukau di panggung yang sama, kembali dikawal oleh dentingan jemari pianis Eveline Maria Philips, ST.
Mengenakan gaun merah panjang berhias aksesori khas Bugis-Makassar, anggota jemaat GPIB Immanuel Makassar bernomor undian 31 ini tampil penuh totalitas. Di hadapan juri Linda Sitinjak, Ray Tambunan, dan David Djalung, Catherine mempertontonkan teknik vokal papan atas dan penguasaan panggung yang berhasil menyihir ratusan pasang mata.
Lagu wajib "Haleluya" serta lagu pilihan "BagiMu Ya Tuhan Ku" dinyanyikannya dengan artikulasi jernih dan power yang luar biasa. Tepuk tangan riuh langsung bergemuruh dari seluruh sudut ruangan, bahkan para dewan juri pun tak mampu menyembunyikan apresiasi mereka atas penampilan berkelas tersebut.

Keberhasilan di sektor solo rupanya menular ke kategori Vokal Grup. Kelompok vokal besutan LPPD Kabupaten Tana Toraja tampil begitu enerjik dan atraktif di hadapan para pakar musik tanah air yang menjadi dewan juri, yakni Ronny Loppies, Harry Anggoman, dan Yusuf Simorangkir.
Mentas di Arfak Convention Hall Polda Papua Barat sekitar pukul 13.15 WIT dengan nomor undian 16, tim yang dilatih oleh Ida Ibrahim, S.Pd, MM ini menyajikan kekompakan yang solid. Mereka tampil modis dalam balutan busana hitam yang dipadukan dengan ukiran tenun warna merah dan kuning emas khas Toraja.
Tiga komposisi lagu berhasil dibawakan dengan aransemen yang ciamik. Mereka membuka penampilan dengan lagu wajib "Nyanyian Papua" (Igor Leonard Sopamena), disusul lagu pilihan terikat berupa *medley* apik dari lagu "Ya Tuhan Tiap Jam", "Tuhan Pimpin Anakmu", dan "Ku Heran, Allah Mau Memb'ri" aransemen Jondry Latuheru, serta ditutup manis oleh lagu pilihan bebas "Pujianku Bagimu" (Eko Agus Kandung Prihatin).
Menyempurnakan kegemilangan hari pertama Sulsel, tim Paduan Suara Anak (PSA) Tana Toraja yang diperkuat 35 anak berbakat di bawah asuhan pelatih Emi Ibrahim, SE, sukses menyuguhkan performa teatrikal yang epik di Auditorium Rektorat Universitas Papua Barat.
Dipimpin langsung oleh Emi Ibrahim sebagai dirigen, kelompok dengan nomor undian 8 dan naik pentas sekitar pukul 10.00 WIT ini tampil penuh energi dengan kostum seragam merah-kuning emas khas Toraja yang mencolok, memperdengarkan teknik vokal komunal yang sangat matang.
Paduan suara yang harmonis serta koreografi yang sinkron membuat seisi ruangan seolah terhipnotis, bahkan bulu kuduk merinding saking indahnya lantunan suara mereka. Penampilan magis ini sukses memukau panel juri yang terdiri dari George Ruata, Sukanty, Yusuf Tjahyo, Rudolf Hehanusa, dan Relin Huka.
Tiga pujian rohani yang dibawakan dengan penuh penghayatan oleh anak-anak asuh Emi Ibrahim ini meliputi lagu wajib "Aku Hendak Memuji Tuhan" (Mahardhika Kusumo Simbolon), lagu pilihan terikat berjudul sama "Aku Hendak Memuji Tuhan" (Timbul F. Parsaulin), serta lagu pilihan bebas berbahasa Latin "Psallite" (Kyle Pederson).
Langkah awal yang manis di hari pertama Pesparawi Nasional XIV 2026 ini disambut dengan tangis haru dan sorak gembira oleh seluruh ofisial dan peserta kontingen Sulsel. Mereka berharap tren positif ini terus terjaga pada hari-hari berikutnya demi membawa pulang prestasi tertinggi bagi Bumi Sulawesi Selatan. (*)
