Warisan Leluhur Indonesia Mendunia, Tiga Dokumen Bersejarah Diakui UNESCO

SOROTMAKASSAR -- JAKARTA, Indonesia kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Tiga warisan dokumenter bersejarah Tanah Air resmi masuk dalam Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) Regional Register UNESCO. Pengakuan ini menjadi bukti kekayaan sejarah, sastra, dan kebudayaan Indonesia yang memiliki nilai penting bagi peradaban dunia.

Ketiga warisan dokumenter tersebut meliputi naskah Bo’ Sangaji Kai dari Kesultanan Bima, karya sastra tradisional Bali Kidung Bhuwana Wināśa, serta koleksi Jejaring Sastra Asia Tenggara dalam arsip Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin.

Penetapan tersebut diumumkan dalam Pertemuan Umum ke-11 MoWCAP yang berlangsung di Jakarta pada 3–5 November 2026. Dalam pertemuan internasional itu, sebanyak 21 warisan dokumenter dari 10 negara Asia-Pasifik diterima sebagai bagian dari register regional UNESCO.

Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sekaligus Ketua Memory of the World Indonesia, Mego Pinandito, menyampaikan bahwa pengakuan tersebut merupakan hasil komitmen dan kerja bersama dalam menjaga serta melestarikan warisan dokumenter bangsa.

Menurutnya, kepercayaan UNESCO MoWCAP kepada Indonesia untuk menjadi tuan rumah merupakan kehormatan sekaligus bentuk penghargaan dunia terhadap upaya pelestarian warisan dokumenter di Tanah Air. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh nominator dan Sekretariat Memory of the World Indonesia yang telah memperjuangkan ketiga nominasi tersebut.

Salah satu warisan yang mendapat pengakuan adalah Bo’ Sangaji Kai, naskah kerajaan Bima yang menjadi sumber primer sejarah Kesultanan Bima pada abad ke-17 hingga ke-19. Dokumen bersejarah ini tidak hanya merekam tradisi pemerintahan, hubungan diplomatik dan perdagangan di Asia Tenggara, tetapi juga menjadi saksi tertulis peristiwa letusan Gunung Tambora pada 1815.

Naskah tersebut juga menyimpan catatan penting mengenai sistem pemerintahan Kesultanan Bima, termasuk keberadaan Sultanah dan perlindungan hukum bagi perempuan. Nominasi diajukan oleh Perpustakaan Nasional RI, Yayasan Museum Kebudayaan Samparaja, dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Warisan kedua adalah Kidung Bhuwana Wināśa, karya sastra tradisional Bali yang ditulis Ida Pedanda Ngurah pada 1918. Terdiri atas 55 lempir daun lontar, 383 bait, dan empat pupuh, karya ini merekam perspektif masyarakat lokal mengenai politik, diplomasi, konflik, serta perjuangan masyarakat Bali dan Lombok menghadapi kolonialisme Belanda.

Keistimewaan karya tersebut juga terletak pada dokumentasi keterlibatan perempuan Bali dalam peristiwa Puputan Badung 1906 dan Puputan Klungkung 1908. Nominasi ini diajukan Perpustakaan Nasional RI bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Badung, Griya Agung Mandara Pemaron, serta Griya Gede Belayu.

Sementara itu, warisan ketiga merupakan koleksi Jejaring Sastra Asia Tenggara dalam arsip PDS H.B. Jassin. Koleksi yang digagas H.B. Jassin sejak 1930-an tersebut menyimpan korespondensi, catatan kegiatan, dan berbagai dokumen kesusastraan yang merekam perkembangan sastra modern serta hubungan intelektual dan budaya antarsastrawan di kawasan Asia Tenggara. Nominasi diajukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.

Ketua Yayasan Museum Kebudayaan Samparaja Bima, Dewi Ratna Muchlisa Mandyara, menjelaskan bahwa Bo’ Sangaji Kai merupakan catatan penting sejarah dan kebudayaan Kerajaan Bima sejak abad ke-17 hingga ke-19. Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas, Aditia Gunawan, menegaskan pentingnya Kidung Bhuwana Wināśa sebagai sumber pengetahuan mengenai diplomasi, konflik, dan perlawanan masyarakat Bali serta Lombok terhadap kolonialisme.

Pengakuan UNESCO terhadap ketiga warisan tersebut bukan sekadar pencapaian dalam pelestarian arsip, tetapi juga menjadi pengingat bahwa sejarah, sastra, dan kebudayaan merupakan identitas sekaligus kekuatan bangsa. Melalui dokumentasi yang terjaga, generasi mendatang dapat mengenal perjalanan peradaban, menghargai perjuangan para pendahulu, serta mengambil pelajaran berharga dari masa lalu.

Sebagai tuan rumah pertemuan internasional tersebut, Indonesia melalui ANRI turut memperkuat kerja sama negara-negara Asia-Pasifik dalam mengidentifikasi, melindungi, melestarikan, dan mempromosikan warisan dokumenter. MoWCAP merupakan forum regional program Memory of the World UNESCO yang memberikan pengakuan terhadap dokumen dan arsip bernilai penting bagi sejarah serta peradaban kawasan Asia-Pasifik. (*)