SOROTMAKASSAR - MAKASSAR, Kekayaan sejarah dan keberagaman budaya Makassar kembali mendapat perhatian dari kalangan peneliti internasional. Gallery Roemah Kebaja milik budayawan Ir. Arwan Tjahjadi, yang juga anggota Dewan Kebudayaan Kota Makassar, menjadi ruang pertemuan budaya saat menerima kunjungan Dr. Tom G. Hoogervorst, Miss Dr. Quennie Liem, dan Mr. Louis di Jalan Mongisidi Baru, Kota Makassar, Minggu (18/10/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya menggali pengetahuan mengenai perjalanan sejarah, identitas, dan dinamika kehidupan masyarakat Peranakan Tionghoa yang telah menjadi bagian dari mozaik kebudayaan Kota Makassar. Penelusuran ini diharapkan memperkaya pemahaman tentang hubungan antarkomunitas yang tumbuh dan berkembang dalam perjalanan panjang sejarah Nusantara.
Ketiga tamu tersebut berasal dari Belanda, Taiwan, dan Indonesia. Dr. Tom G. Hoogervorst, Miss Dr. Quennie Liem, dan Mr. Louis merupakan bagian dari rombongan peneliti KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies), lembaga yang dikenal melalui kajian sejarah, bahasa, dan masyarakat Asia Tenggara. Selama beberapa hari berada di Makassar, mereka melakukan penelusuran untuk memahami lebih jauh asal-usul, perkembangan, serta warisan budaya Peranakan Tionghoa di kota yang sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat pertemuan berbagai bangsa.
Bagi Ir. Arwan Tjahjadi, kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan kebudayaan Makassar kepada masyarakat internasional. Gallery Roemah Kebaja di Jalan Mongisidi tidak hanya menjadi tempat untuk mengenal warisan budaya, tetapi juga ruang dialog yang mempertemukan budayawan, akademisi, peneliti, dan masyarakat dalam semangat saling memahami.
“Sejarah dan kebudayaan merupakan bagian penting dari identitas suatu masyarakat. Melalui Roemah Kebaja, kita ingin membuka ruang dialog agar warisan budaya Makassar semakin dikenal, dipelajari, dan dihargai, tidak hanya oleh masyarakat kita sendiri, tetapi juga oleh dunia internasional,” ujar Ir. Arwan Tjahjadi.
Sebagai budayawan sekaligus anggota Dewan Kebudayaan Kota Makassar, Arwan memandang pelestarian sejarah sebagai upaya menjaga ingatan kolektif dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya. Kekayaan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang membantu masyarakat memahami akar identitas, menghargai perbedaan, dan membangun kehidupan yang lebih harmonis.
Dalam konteks kebangsaan, penelusuran sejarah Peranakan Tionghoa Makassar memiliki relevansi yang mendalam. Indonesia tumbuh melalui perjumpaan berbagai suku, bangsa, bahasa, agama, dan tradisi. Jejak interaksi tersebut membentuk identitas nasional yang beragam sekaligus memperlihatkan bahwa persatuan Indonesia berakar pada kemampuan masyarakatnya untuk hidup berdampingan dan saling menghormati.
Kunjungan Dr. Tom G. Hoogervorst (Belanda), Miss Dr. Quennie Liem (Taiwan), dan Mr. Louis (Indonesia) di Gallery Roemah Kebaja turut didampingi Anna dan Batara dari Universitas Hasanuddin. Kehadiran unsur akademisi bersama budayawan dan peneliti internasional membuka peluang pertukaran perspektif serta memperkuat kolaborasi dalam mendokumentasikan sejarah dan kebudayaan Makassar melalui pendekatan ilmiah dan lintas negara.
Pertemuan tersebut juga mengingatkan bahwa pelestarian sejarah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Budayawan berperan menjaga ingatan kolektif, akademisi mengembangkan kajian ilmiah, sementara peneliti memperluas perspektif melalui penelusuran sumber dan pengalaman lintas negara. Sinergi ini diharapkan menghasilkan pemahaman sejarah yang lebih kaya, mendalam, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Ketika kita memahami sejarah dengan baik, kita akan semakin menyadari bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama. Warisan budaya perlu dijaga agar generasi mendatang dapat mengenali jati dirinya sekaligus menghormati perjalanan sejarah masyarakat lainnya,” tandas Arwan.
Melalui Gallery Roemah Kebaja di Jalan Mongisidi Baru, Kota Makassar, Ir. Arwan Tjahjadi menghadirkan semangat bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan sekaligus mempertemukan masyarakat lokal dengan dunia internasional. Penelusuran sejarah Peranakan Tionghoa Makassar bukan hanya tentang asal-usul suatu komunitas, melainkan juga tentang perjalanan bersama dalam membangun Indonesia yang berkarakter, berwawasan luas, dan menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman. (*Rz)