SOROTMAKASSAR -- MAKASSAR, Semangat persatuan dalam keberagaman kembali digaungkan dari kawasan timur Indonesia melalui Dialog Budaya bertajuk “Tionghoa Dalam Kebhinekaan” yang digelar di Museum Kota Makassar, Minggu (15/2/2026). Kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga panggung refleksi nasional tentang pentingnya merawat kebhinekaan sebagai fondasi kemajuan bangsa.
Dialog tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan pelaku usaha dalam suasana hangat dan konstruktif. Kehadiran lintas generasi dan latar belakang menunjukkan bahwa isu keberagaman dan persatuan tetap relevan serta menjadi perhatian bersama di tengah dinamika sosial dan tantangan era digital.
Dr. Mukhlis Paeni, MA., menegaskan bahwa sejarah Indonesia dibangun oleh kontribusi banyak etnis, termasuk masyarakat Tionghoa yang telah hadir sejak era perdagangan maritim Nusantara. Menurutnya, pemahaman sejarah yang inklusif akan memperkuat identitas nasional dan mencegah lahirnya sekat-sekat sosial yang kontraproduktif bagi persatuan.
Dari perspektif ekonomi, Ir. Arwan Tjahjadi menyoroti peran strategis kolaborasi lintas etnis dalam mendorong pertumbuhan daerah dan nasional. Ia menyampaikan bahwa kemajuan kota-kota besar tidak lepas dari sinergi seluruh elemen masyarakat. Kebhinekaan, katanya, bukan sekadar slogan, melainkan energi produktif yang mendorong inovasi dan penciptaan lapangan kerja.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH, MH, menekankan bahwa konstitusi menjamin kesetaraan hak bagi setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang. Dalam kerangka hukum dan moral kebangsaan, dialog menjadi instrumen penting untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa keberagaman adalah kekuatan yang harus dirawat secara berkelanjutan.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta, mulai dari tantangan integrasi sosial di era digital hingga peran generasi muda dalam memperkuat kewirausahaan berbasis kolaborasi. Antusiasme tersebut mencerminkan optimisme bahwa generasi penerus bangsa memiliki komitmen untuk menjaga harmoni sosial sekaligus mendorong transformasi ekonomi.
Dari Makassar, pesan kebangsaan itu menggema secara nasional: Indonesia kuat karena perbedaan yang dikelola dengan bijak. Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, modal sosial berupa toleransi, gotong royong, dan saling percaya menjadi aset strategis yang membedakan Indonesia dari banyak bangsa lain.
Dialog ini menjadi pengingat bahwa persatuan bukanlah kondisi yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari perjumpaan, percakapan, dan kerja bersama yang terus dirawat. Dengan semangat kolaborasi lintas etnis dan generasi, Indonesia memiliki fondasi kokoh untuk melangkah maju sebagai bangsa yang adil, inklusif, dan berdaya saing di panggung dunia. (*Rz)