SOROTMAKASSAR -- Luwu Utara.
Kepala UPT SMPN 1 Masamba Kabupaten Luwu Utara (Lutra) mengharapkan siswa-siswi dan guru di sekolah untuk meningkatkan budaya literasi. Ini karena, minat baca masyarakat, khususnya pelajar masih cukup minim.

Sehingga perlu terus digenjot agar wawasan atau pengetahuan terus berkembang, prestasi akademik meningkat, serta kecintaan untuk membaca semakin meningkat.
Kepala UPT SMP Negeri 1 Masamba, Asbul Syamsuddin kepada media ini, Jumat (15/11/2019) mengemukakan, gerakan literasi ini dilaksanakan di halaman sekolah mulai pukul 07.00 sampai pukul 07.30 Wita sebelum jam pelajaran dimulai.
"Gerakan minat baca masyarakat di Bumi Lamaranginang julukan Kabupaten Luwu Utara masih sangat rendah. Kami harapkan minat membaca terus digalakkan sejak dini. Semoga sekolah-sekolah di Lutra juga terus meningkatkan budaya literasi di sekolahnya masing-masing," pintanya.
Diakui, sekolah belum berfungsi sepenuhnya menjadi organisasi pembelajaran, jadi perlu dilakukan gerakan literasi sekolah sebagai upaya membentuk generasi yang berkarakter dan memiliki pemahaman luas.
"Memang membangun budaya literasi bukan hal mudah. Harus itu ditunjang sarana prasarana pendukung guna semakin meningkatkan semangat literasi bagi para siswa," beber Asbul Syamsuddin.
Sementara itu ditemui guru disekolah itu, Jusman S.Pd mengharapkan, budaya membaca memang terus ditingkatkan, khususnya buku-buku berbahasa Indonesia. Sebab dengan membaca dan memahami bacaan, akan membuat kecintaan terhadap Bahasa Indonesia juga meningkat.
"Karena saat ini kecintaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia masih sangat kurang. Budaya membaca memang sangat perlu digencarkan," ujarnya.
Menurut Jusman, ada empat tanggung jawab yang diemban sebagai warga negara Indonesia, antara lain warga negara wajib mahir bahasa ibu atau bahasa lokal.
Karena bahasa ibu merupakan bahasa yang menguatkan kecintaan seseorang terhadap wilayahnya. Selain itu, warga negara wajib mahir menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar akan menata pikiran.
Setelah itu baru warga negara wajib mahir bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Karena globalisasi menuntut seseorang lebih berkembang dan maju.
"Jangan sampai mengkhianati bangsa Indonesia karena tidak menghargai bahasa Indonesia," pesan Jusman.(yustus)