SOROTMAKASSAR -- PINRANG, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pinrang menggelar kegiatan Lailatul Ijtima' sebagai bagian integral dari kegiatan Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). Lailatul Ijtima’ telah menjadi ruang berkumpulnya para warga Nahdliyin untuk memperkuat tali silaturahmi dan konsolidasi organisasi.
Lailatul Ijtima' kali ini dikemas dalam bentuk musyawarah, penyampaian informasi dan diskusi bertema Kearifan Lokal dan Ekospiritual dengan menghadirkan dua Nara sumber yang merupakan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Idham Khalid Bodi dan Dr Syamsurijal Adhan yang berlangsung di Sekretariat PCNU Pinrang, di Kelurahan Temmassarangnge, Kecamatan Paleteang, Selasa (7/4) malam.
Kegiatan ini dipandu langsung Suaib Prawono, Koordinator Gusdurian Sulampapua yang juga dihadiri unsur pengurus PCNU Pinrang, Tanfidziyah NU beserta pengurus Badan Otonom (Banon) NU Pinrang lainnya.
Dalam kesempatan ini juga, Prof Idham Khalid menyerahkan Kitab Al-Qur'an dengan terjemahan Bahasa Mandar kepada Ketua PCNU Pinrang. Diharapkan ini menjadi pemicu agar Al-Qur'an juga bisa diterjemahkan dengan Bahasa daerah lainnya.
Ketua PCNU Pinrang, Anshar Sangiang menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Anshar mengatakan, kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam menjaga kekompakan dan menangani isu-isu sosial keagamaan di masyarakat.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi juga memiliki nilai lebih dalam mempererat hubungan antara ulama dengan pengurus, serta antara generasi muda NU dengan para sesepuh. Ia berharap, Hubungan yang terjalin ini tidak hanya memperkokoh organisasi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah di kalangan jamaah.
Dalam paparannya, nara sumber Dr Syamsurijal mengungkapkan, cara masyarakat dalam memandang alam.telah mengalami perubahan Mereka memandang alam hanya sebagai obyek material yang bisa menghasilkan ekonomi.
Rijal mengatakan, cara pandang ini merupakan ciri khas orang-orang modern sehingga dengan sewenang-wenang mengeksploitasi alam sesukanya. Dia menyebut, dari penelitian yang dilakukan terhadap orang-orang suku Pattae dan Pattinjo di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, umumnya mereka tidak sekadar melihat lingkungan alam itu untuk meningkatkan ekonomi, tetapi juga sarat dengan relasi-relasi spiritualitas saat mengolah alam. Bisa saja menggunakan teknologi, namun dengan cara yang lebih bijaksana.
Rijal mengungkapkan, sebanyak 10,8 MHH atau 10,800 juta Ha Hutan Primer Basa di Indonesia hilang dan berubah menjadi Hutan Tanaman Industri. Ada yang menyebut kedua jenis hutan ini sama, padahal itu sangat berbeda. Baik ekosistem yang ada didalamnya begitu juga biotanya. Bahkan cara menyerap karbon dioksida juga berbeda.
"Ini perlu diluruskan, agar ketika menanam pohon tidak serta merta sudah melakukan penghijauan. Itu belum tentu. Karena itu, paradigma kita dalam memandang lingkungan hidup dan alam sekitar, harus diperbaiki," kata Rijal.
Sementara itu, nara sumber kedua, Prof Idham Khalid menyebut masyarakat lokal menganggap bahwa berhubungan dengan alam sebenarnya merupakan cara untuk mengetahui dan memahami sesungguhnya karakter alam itu. Menurutnya, masyarakat lokal yang berada di wilayah pegunungan masih setia memelihara dan menjaga lingkungan alam sekitarnya sebagai sebuah relasi epistimologi. Sehingga ada hubungan emosional dengan lingkungan alam sekitarnya. Kalau pun masih ada unsur-unsur kemusyrikannnya, maka itu yang harus dirubah.
Idham juga mengingatkan, cara pandang modern harus dirubah untuk kembali ke cara pandang spiritual. Ia berharap, hal ini perlu diluruskan kembali agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat ke depannya.
Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab terkait Ekospiritual dan Kearifan Lokal menyangkut lingkungan hidup dan alam sekitar di tengah arus modernisasi saat ini, serta isu-isu sosial kemasyarakatan lainnya yang berkembang di kehidupan masyarakat. (busrah)
SOROTMAKASSAR, PINRANG - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pinrang menggelar kegiatan Lailatul Ijtima' sebagai bagian integral dari kegiatan Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). Lailatul Ijtima’ telah menjadi ruang berkumpulnya para warga Nahdliyin untuk memperkuat tali silaturahmi dan konsolidasi organisasi.
Lailatul Ijtima' kali ini dikemas dalam bentuk musyawarah, penyampaian informasi dan diskusi bertema Kearifan Lokal dan Ekospiritual dengan menghadirkan dua Nara sumber yang merupakan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Idham Khalid Bodi dan Dr Syamsurijal Adhan yang berlangsung di Sekretariat PCNU Pinrang, di Kelurahan Temmassarangnge, Kecamatan Paleteang, Selasa (7/4) malam.
Kegiatan ini dipandu langsung Suaib Prawono, Koordinator Gusdurian Sulampapua yang juga dihadiri unsur pengurus PCNU Pinrang, Tanfidziyah NU beserta pengurus Badan Otonom (Banon) NU Pinrang lainnya.
Dalam kesempatan ini juga, Prof Idham Khalid menyerahkan Kitab Al-Qur'an dengan terjemahan Bahasa Mandar kepada Ketua PCNU Pinrang. Diharapkan ini menjadi pemicu agar Al-Qur'an juga bisa diterjemahkan dengan Bahasa daerah lainnya.
Ketua PCNU Pinrang, Anshar Sangiang menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Anshar mengatakan, kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam menjaga kekompakan dan menangani isu-isu sosial keagamaan di masyarakat.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi juga memiliki nilai lebih dalam mempererat hubungan antara ulama dengan pengurus, serta antara generasi muda NU dengan para sesepuh. Ia berharap, Hubungan yang terjalin ini tidak hanya memperkokoh organisasi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah di kalangan jamaah.
Dalam paparannya, nara sumber Dr Syamsurijal mengungkapkan, cara masyarakat dalam memandang alam.telah mengalami perubahan Mereka memandang alam hanya sebagai obyek material yang bisa menghasilkan ekonomi.
Rijal mengatakan, cara pandang ini merupakan ciri khas orang-orang modern sehingga dengan sewenang-wenang mengeksploitasi alam sesukanya. Dia menyebut, dari penelitian yang dilakukan terhadap orang-orang suku Pattae dan Pattinjo di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, umumnya mereka tidak sekadar melihat lingkungan alam itu untuk meningkatkan ekonomi, tetapi juga sarat dengan relasi-relasi spiritualitas saat mengolah alam. Bisa saja menggunakan teknologi, namun dengan cara yang lebih bijaksana.
Rijal mengungkapkan, sebanyak 10,8 MHH atau 10,800 juta Ha Hutan Primer Basa di Indonesia hilang dan berubah menjadi Hutan Tanaman Industri. Ada yang menyebut kedua jenis hutan ini sama, padahal itu sangat berbeda. Baik ekosistem yang ada didalamnya begitu juga biotanya. Bahkan cara menyerap karbon dioksida juga berbeda.
"Ini perlu diluruskan, agar ketika menanam pohon tidak serta merta sudah melakukan penghijauan. Itu belum tentu. Karena itu, paradigma kita dalam memandang lingkungan hidup dan alam sekitar, harus diperbaiki," kata Rijal.
Sementara itu, nara sumber kedua, Prof Idham Khalid menyebut masyarakat lokal menganggap bahwa berhubungan dengan alam sebenarnya merupakan cara untuk mengetahui dan memahami sesungguhnya karakter alam itu. Menurutnya, masyarakat lokal yang berada di wilayah pegunungan masih setia memelihara dan menjaga lingkungan alam sekitarnya sebagai sebuah relasi epistimologi. Sehingga ada hubungan emosional dengan lingkungan alam sekitarnya. Kalau pun masih ada unsur-unsur kemusyrikannnya, maka itu yang harus dirubah.
Idham juga mengingatkan, cara pandang modern harus dirubah untuk kembali ke cara pandang spiritual. Ia berharap, hal ini perlu diluruskan kembali agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat ke depannya.
Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab terkait Ekospiritual dan Kearifan Lokal menyangkut lingkungan hidup dan alam sekitar di tengah arus modernisasi saat ini, serta isu-isu sosial kemasyarakatan lainnya yang berkembang di kehidupan masyarakat. (busrah)