Menjemput Ingatan di Kamar Borong: Refleksi Setengah Abad Militansi Seniman Makassar

Laporan Rachim Kallo

Suasana hangat menyelimuti Jalan Borong Raya No. 75 A, Makassar, ketika de la macca bersama Dewan Kesenian Makassar (DKM) dan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (Lapakkss) menggelar diskusi buku bertajuk Kamar Pertemuan Seniman (Rekam Jejak dari Benteng Ujung Pandang 29 Juni 1969). Tepat pukul 14.00 WITA, acara dibuka dengan khidmat oleh saudari Anggi selaku pembawa acara, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipandu oleh saudari Lala sebagai dirigen. Momentum ini menjadi begitu emosional dan bersejarah karena dari sebelas pendiri DKM, kini hanya tersisa satu orang yang masih hidup, yaitu Aspar Paturusi, yang turut hadir memberikan tanggapan secara virtual melalui Zoom dari Jakarta, sementara sepuluh pendiri lainnya telah berpulang.

Ketua Umum DKM yang baru saja dilantik pada 27 Juni 2026 di Mall Phinisi Point, Drs. M. Juniar Arge, dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangga atas kehadiran Prof. Amran Razak sebagai pemantik diskusi. Kehadiran ruang diskusi ini membuat Juniar merasa seolah-olah mendiang ayahnya, Rahman Arge, hadir dan berinteraksi di tengah-tengah mereka. Beliau menegaskan bahwa untuk menjadi manusia yang bermakna, kita harus menghidupkan ruang pencerdasan yang saling memberi dan menghormati, seraya berharap agar kegiatan reflektif seperti ini dapat terus diagendakan menjadi program rutin DKM di masa depan.

Sejalan dengan harapan tersebut, Goenawan Monoharto selaku penyelenggara dari penerbit de la macca menjelaskan cikal bakal terbitnya buku ini yang tidak lepas dari pembentukan DKM pada 29 Juli 1969. Pria yang akrab disapa Kak Goen ini menekankan pentingnya seniman masa kini mengetahui betapa militannya para pendahulu mereka dalam berkesenian di Makassar. Kolaborasi antara de la macca dan Komisi Teater DKM ini sengaja dialihkan ke pinggiran kota Borong sebagai bentuk "Pertemuan Kamar Seniman Jilid II". Sebagai Ketua Ikapi Kota Makassar, Kak Goen menargetkan keluaran dari pertemuan ini adalah sebuah buku sejarah berkesenian di Sulawesi Selatan, seraya mengajak seluruh seniman untuk lebih giat bekerja dan mendokumentasikan karya mereka demi masa depan.

Melangkah ke sesi inti, Rusdin Tompo yang bertindak sebagai editor sekaligus moderator membuka pengantar dengan menyoroti pentingnya sebuah kota memiliki visi kebudayaan. Beliau mengenang era 1960-an di bawah kepemimpinan Walikota H.M. Dg. Patompo yang telah mencanangkan Makassar sebagai "Kota Budaya" berdimensi dagang dan industri—konsep yang kini dikenal sebagai kota budaya dan ekonomi kreatif. Rusdin juga menggarisbawahi bukti hadirnya pemerintah masa lalu melalui sambutan Gubernur Ahmad Lamo, Walikota, hingga DPRD di dalam buku tersebut. Mantan komisioner penyiaran ini mengagumi bagaimana para tokoh masa lalu mampu menyatu dan berkolaborasi memajukan kesenian mengesampingkan perbedaan ideologi yang tajam. Ia mengingatkan bahwa dokumentasi sejarah seni di Sulsel sangat lambat; peristiwa tahun 1969 baru dibukukan pada tahun 1999, dan kini 57 tahun kemudian barulah momen ini diangkat kembali sebagai ruang introspeksi sekaligus pemantik gagasan inovatif yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Sebagai pemantik diskusi, Prof. Dr. H. Amran Razak, S.E., M.Sc. menegaskan bahwa seniman, budayawan, dan sastrawan adalah penjaga peradaban, di mana kaum intelektual hanya bisa tumbuh subur jika mereka memiliki jiwa seni dan budaya. Guru Besar Unhas ini memuji kedalaman tulisan para tokoh 59 tahun lalu yang dinilainya sangat sulit ditemukan di era modern yang sering berubah-ubah. Sembari mengenang momen sakral saat ia membacakan puisi di DKM pada tahun 1984, Prof. Amran menitipkan pesan kepada Ketua DKM agar kembali "memesrakan" hubungan antara dunia kampus dengan DKM. Beliau juga mendesak DKM untuk segera mengadopsi digitalisasi dan memanfaatkan media sosial serta platform pesan digital agar rekam jejak kesenian Makassar tidak hilang ditelan zaman.

Dari sudut pandang keberlanjutan pengetahuan, Luna Vidia selaku Direktur Lapakkss menjelaskan bahwa keterlibatan lembaga yang dipimpinnya merupakan langkah strategis untuk memperkuat alur dan distribusi pengetahuan. Sebagai platform yang mengadvokasi pengetahuan menjadi sebuah kebijakan, Lapakkss melihat sejarah Kamar Pertemuan Seniman 1969 sebagai objek yang sangat strategis. Aktor monolog ini menegaskan bahwa kehadiran Lapakkss dalam diskusi ini adalah untuk memastikan bahwa gagasan, visi, dan nilai-nilai pengembangan kesenian serta kebudayaan di Sulawesi Selatan tetap terpelihara dengan baik, sekaligus menjadi jembatan yang menyambung mata rantai pengetahuan yang sempat hilang antar-generasi. Diskusi yang kaya akan refleksi sejarah dan proyeksi masa depan ini terus berlangsung dinamis membedah memori kolektif kesenian Makassar. (***)