SOROTMAKASSAR – MAKASSAR.
Koridor Masjid Nurul Qalbi RW.004 Kelurahan Kunjung Mae, Jalan Kasuari, menjadi saksi bisu kebangkitan kesadaran lingkungan warga Kelurahan Kunjung Mae, Sabtu (02/05/2026). Melalui sosialisasi Bank Sampah dan Urban Farming, sinergi pemerintah dan masyarakat kini diarahkan pada pengelolaan sampah mandiri guna menyokong visi "Makassar Bebas Sampah 2029".
Lurah Kunjung Mae, Syafruddin, SE., MM., membuka kegiatan dengan paparan teknis yang mendalam mengenai urgensi peralihan sistem pengelolaan sampah di TPA Antang. Ia menjelaskan bahwa mulai tahun 2026, Pemkot Makassar meninggalkan sistem lama open dumping—yakni sekadar membuang dan menumpuk sampah di lahan terbuka yang memicu polusi bau dan gas metana berbahaya.

"Kita beralih ke metode Sanitary Landfill dan Controlled Landfill. Di sini, sampah tidak lagi dibiarkan menggunung secara liar, melainkan dipadatkan dan ditutup dengan lapisan tanah secara berkala. Sistem ini jauh lebih superior karena memiliki pelapisan dasar untuk mengelola limbah lindi agar tidak mencemari air tanah. Artinya, TPA kini hanya menerima sampah residu. Sampah organik dan anorganik wajib selesai di tingkat warga melalui Bank Sampah dan komposter," tegas Syafruddin merujuk pada regulasi nasional terbaru.
Peran strategis dalam giat ini tak lepas dari kontribusi Ketua RW.004, Muhammad Thohad, selaku penyelenggara sekaligus fasilitator Bank Sampah Pesona Mulia. Di sela kegiatan, ia menunjukkan komitmennya dalam memfasilitasi warga untuk mulai memilah sampah botol plastik. Langkah awal ini mendapat apresiasi dari narasumber Dinas Lingkungan Hidup, Faisal Baso, yang terus mendorong agar Bank Sampah Pesona Mulia meningkatkan skala administrasinya agar kelak bisa menyamai capaian Bank Sampah Asoka V yang telah berhasil mengonversi sampah menjadi 48 gram emas logam mulia.
Begitu pula dengan Abdul Kadir, narasumber Urban Farming, yang menceritakan perjalanannya mengelola 2.000 meter persegi lahan produktif dan menyuplai 100 kg kangkung setiap harinya bagi program pemerintah. Kisah nyata keberhasilan ekonomi dari lingkungan ini memicu gelombang rasa ingin tahu dari para peserta.

Memasuki sesi dialog interaktif, suasana kian dinamis. Muhammad Ansharullah Amin (Ketua RT.007/RW.002) melontarkan pertanyaan mendasar mengenai hambatan teknis bagi pemula dalam mengelola Bank Sampah. Menanggapi hal itu, Faisal Baso menekankan pentingnya kejujuran administrasi dan variasi jenis sampah, mulai dari botol sirup DHT hingga minyak jelantah, agar nilai ekonomisnya lebih terasa bagi warga.
Pertanyaan kritis juga datang dari Yanti panggilan akrab (Ketua RT.012/RW.003) yang mengkhawatirkan daya tampung biopori. Abdul Kadir menjelaskan secara sistematis bahwa biopori harus dikelola berkelanjutan. "Jangan masukkan semua sampah sekaligus. Biarkan sampah organik dapur menyusut menjadi kompos secara alami. Dengan begitu, lubang tidak akan cepat penuh, resapan air maksimal, dan kita mendapat pupuk organik berkualitas secara cuma-cuma," urai Abdul Kadir.

Kehadiran Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Kunjung Mae, Nurfadillah Syafruddin, dan Ketua LPM, Agatha Rita Taka, memberikan sinyal kuat bahwa gerakan ini didukung penuh oleh seluruh instrumen kemasyarakatan. Para kader PKK nampak antusias mencatat poin-poin penting mengenai pemilahan sampah organik untuk komposter, yang nantinya akan menjadi program kerja prioritas di tingkat dasawisma.
Sebagai bentuk konkret dukungan terhadap visi Pemerintah Kota Makassar, Kelurahan Kunjung Mae terus melakukan langkah proaktif melalui penguatan kelembagaan Bank Sampah di tingkat RW dan edukasi urban farming di lorong-lorong wisata. Langkah ini diperkuat dengan kedisiplinan warga dalam mematuhi Surat Edaran Kepala Kecamatan Mariso Nomor: 680/50/IV/2026 tentang jadwal pembuangan sampah rumah tangga, yakni pagi hari pukul 05.00 – 06.30 Wita dan sore hari pukul 17.00 – 20.00 Wita. Kepatuhan pada jadwal ini menjadi kunci agar sampah tidak berhamburan serta menjaga estetika wilayah tetap terjaga.
Komitmen ini bukan sekadar mengejar target administratif, melainkan sebuah gerakan moral untuk memastikan Kunjung Mae tetap asri, berdaya secara ekonomi, dan menjadi lingkungan yang layak huni bagi generasi mendatang. Dengan sinergi antara pemerintah, kader PKK, LPM, hingga Ketua RT/RW, misi besar Makassar Bebas Sampah 2029 kini bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang tengah dibangun bersama.