SOROTMAKASSAR - MAKASSAR.
Panggung demokrasi di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar resmi mencapai puncaknya pada Senin (13/4/2026). Pemilihan Dekan periode 2026–2030 ini berlangsung khidmat, dibalut semangat kekeluargaan yang kental.
Dalam babak penentuan atau putaran kedua, Dr. Andi Atssam Mappanyukki, S.Or, M.Kes, tampil dominan dengan mengamankan dukungan mayoritas, yakni 35 suara dari total 45 pemilih.
Di sisi lain, Prof. Dr. Juhanis, S.Pd, M.Pd, tetap mempertahankan basis pendukungnya dengan meraih 10 suara, jumlah yang konsisten sejak pemungutan suara tahap awal.
Dr. Wahyudin, S.Pd, M.Pd, selaku panitia pemilihan sekaligus anggota Senat FIKK UNM, menyoroti lonjakan suara yang signifikan bagi Dr. Andi Atssam, yang melesat dari 18 suara di putaran pertama menjadi 35 suara di putaran final.
“Terjadi eskalasi dukungan yang kuat bagi Dr. Andi Atssam, dari semula 18 suara kini menjadi 35 suara dari keseluruhan 45 hak suara yang tersedia,” ungkap Wahyudin.
Ia memaparkan bahwa komposisi 45 suara tersebut bersumber dari 16 suara Rektor dan 29 suara anggota Senat FIKK UNM, yang berkolaborasi menentukan nakhoda fakultas selanjutnya.
Sebelum prosesi pencoblosan dimulai, Rektor UNM, Prof. Dr. Farida Patittingi, SH, M.Hum, memberikan wejangan mendalam mengenai esensi persatuan di tengah kontestasi politik kampus.
“Mari melangkah bersama demi masa depan yang gemilang. Buang jauh segala perpecahan dan silang pendapat, mari bahu-membahu membawa institusi ini naik kelas,” tutur Sang Rektor.
Ia meyakini bahwa dalam sebuah kompetisi sehat, tidak ada istilah kekalahan murni, melainkan hanya kesuksesan yang tertunda, sehingga ikatan persaudaraan tidak boleh retak.

“Dalam pandangan saya tidak ada yang kalah; yang ada hanyalah mereka yang menang dan mereka yang keberhasilannya masih tertunda,” tegasnya.
Prof. Farida juga mengingatkan bahwa hakikat seorang pemimpin adalah menjadi pelayan bagi publik, bukan sosok yang haus akan sanjungan semata, melainkan pribadi yang tahan banting terhadap kritik.
“Seorang pemimpin tidak boleh anti-kritik atau sekadar ingin dipuji, sebab tugas utamanya adalah melayani dan mengeksekusi program lembaga secara nyata,” tambahnya.
Diselimuti suasana emosional, Dr. Andi Atssam mengungkapkan rasa syukur mendalam atas kepercayaan besar ini, sembari menekankan bahwa posisi dekan adalah beban moral yang harus dipertanggungjawabkan.
“Bagi saya, jabatan ini bukanlah sekadar posisi, melainkan amanah besar yang wajib saya jalankan dengan integritas penuh,” ucapnya rendah hati.
Ia berjanji akan menakhodai FIKK tanpa membeda-bedakan kelompok atau faksi, dengan mengutamakan azas keadilan dan inklusivitas demi merangkul semua pihak untuk kemajuan bersama.
Momen pelantikan ini diharapkan menjadi batu pijakan untuk mempererat sinergi, membawa FIKK UNM melesat menjadi fakultas yang kompetitif, unggul, dan disegani, baik di kancah nasional maupun global. (*rz)