Oleh M. Dahlan Abubakar
Dua puluh tahun lalu, buku ini sudah mulai dipikirkan. Banyak orang memberi dorongan untuk menulis buku ini. Maysir Yulanwar, cucu M. Basir dari putrinya Yulia Basir-Anwar Rivai, mengakui tidak tahu mengapa tiba-tiba timbul kemalasannya. Bahkan, tidak mau menyentuh buku ini untuk diselesaikan. Bagaikan ruang gelap yang akan dijalani. Entah kenapa, dan tidak pernah dipikirkan, buku ini mempunyai takdir untuk diterbitkan tepat 100 tahun yang peluncurannya dihadiri oleh para tamu istimewa ini.
“Nanti saya dikejutkan oleh saudara sepupu saya, bukankah tanggal 12 Februari hari ini, (2023), 100 tahun Bapak Basir ?. Di situ, saya langsung seperti tersadarkan bahwa, 'iya..ya..,’ ujar sulung dari lima bersaudara ini dan langsung memulai menggarap buku ini dan tidak tahu, entah kenapa mendapatkan takdir untuk menyelesaikan buku ini dengan sebaik-baiknya dan sudah berada di tangan yang hadir.
Maysir juga mengungkapkan ketika dalam proses memilih tempat buku ini akan diluncurkan, pihaknya menghitung kurang lebih 10 tempat kafe maupun hotel. Maysir bersama keluarga dan sepupu mencari tempat. Sebelum tempat peluncuran di Hotel Melia, ada sebuah hotel hampir pasti dijadikan sebagai lokasi acara ini. Entah kenapa sudah hampir terjadi transaksi pembayaran di sebuah hotel Jl. Tompo yang letaknya tidak jauh dari Jl. Ahmad Saleh (Jl. Durian). Sepupu Maysir menyampaikan, coba kita pergi ke Jl. Andi Mappanyukki. Maysir ke hotel ini dan terjadi tanya jawab dan akhirnya difokuskan di Hotel Melia. Kita pilih di hotel ini karena di depan ada kantor Pedoman Rakyat.
“Saya tidak bisa melihat hal-hal yang lain. Saya hanya percaya, beliau (M. Basir) ada di sini,” ujar Maysir dengan suara yang sedikit terdengar bergetar dan pelan.
Menulis buku ini, sambung Maysir, terasa masa lalu itu dekat sekali. Bahkan, dia bisa meraba, mencium, aroma, betapa tersentuhnya masa lalu itu, sehingga baginya merasa dekat sekali. Rumah yang Maysir tempati sekarang merupakan tempat aktivitas beliau sehari-hari ketika menulis dan mengetik tulisan. Ya, ruang tamu yang tidak terlalu lapang.
Maysir selalu ingat pada ayahnya agar dia membuat Basir itu selalu besar.
“Kamu harus menjadi sosok yang besar. Kamu harus bergaya dan bermanfaat, berguna untuk orang lain, untuk cara membesarkan Basir,” beber Maysir dengan suara yang datar dan terasa tertahan-tahan.
Peristiwa hari ini adalah bagian dari sejarah. Kita mewarisi sejarah, sebentar lagi menjadi sejarah. Pertanyaan paling mendasar adalah, kita ingin dikenang bagaimana dan sebagai apa ? Seperti dikatakan Rusdin Tompo, 100 tahun dari sekarang, kita ingin dikenang seperti apa ? Apakah kita 100 tahun akan datang dibuatkan seperti ini ? Apa yang pantas dikenang oleh para pelanjut kita ?
Tugas Basir sudah selesai. Kalau pun masih ada yang menganggap belum selesai. Basir bekerja dan bertugas dengan senyap. “Tugas kita saat ini dan saya adalah menjaga dan meneruskannya. Saya berharap buku ini seperti yang disampaikan oleh bapak Bupati (amiin, maksudnya Saiful Arif, Wakil Bupati Kepulauan Selayar) yang terhormat, bisa bermanfaat. Dan seperti disampaikan oleh ayah saya, sebenarnya kerap terjadi diskusi yang cukup sengit bahwa tidak usah ada pengungkapan-pengungkapan siapa berbuat apa, logo apa yang telah dia buat, karena Basir itu tidak suka dengan keterkenalan. Tetapi ketika ayah saya mengatakan, buku ini bukan untuk kamu sendiri, untuk keturunan Basir dan orang-orang lainnya, maka pengungkapan itu saya butuhkan,” urai Maysir yang membawa acara peluncuran tersebut sedikit beraroma haru.
Maysir melanjutkan, Basir itu sebenarnya lebih berkuasa dari penguasa, tetapi cucunya ini sering membuatnya berdarah. Basir paling senang jika jenggotnya yang minim itu dicabut. Bahkan sudah pupus pun tidak ada, meski dia merasa masih ada sedikit. Akhirnya Maysir mencungkilnya. Jadi, berdarah. Setiap masuk ke kantor, dagunya penuh dengan isolasi putih kecil. Itu dampak dari kelakuan Maysir.
Maysir membayangkan bagaimana wajahnya mirip dengan Basir. Dia dapat mencium aroma mentos yang senang dikunyah-kunyahnya. Dia mengunyah itu sebenarnya untuk mengurangi hasratnya merokok. Basir adalah perokok berat dan berniat berhenti. Akhirnya, dia berhasil. (*)