SOROTMAKASSAR -- Makassar
Anggota MPR RI DR. H. Ajiep Padindang, SE,MM, mengadakan Seminar Empat Pilar Kebangsaan, membahas 'Ketahanan Budaya Masyarakat Berakar Kearifan Lokal SulSel' yang diikuti 150 orang peserta yang berasal dari Sekolah Bugis La Mellong Kabupaten Bone, Sekolah Budaya Bugis Latemmamala Kabupaten Soppeng, dan mahasiswa Sastra Daerah FIB Unhas, berlangsung di Aula Prof. Mattulada FIB Unhas, Sabtu (14/03/2020) kemarin.
Selain Anggota MPR RI DR. H. Ajiep Padindang, SE, MM, hadir pula Dekan FIB Unhas Prof. DR. Akin Duli, MA, Ketua Yayasan Sulapa Eppa, Jamal Andi, Ketua Departemen Sastara Daerah FIB Unhas, DR. Muhlis Hadrawi, MHum, dan pimpinan dari berbagai fakultas di Unhas.

Seminar dipandu oleh moderator DR. Dafirah, MHum, Dekan FIB Unhas Prof. DR. Akin Duli, MA, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya dan ucapan terima kasih atas kehadiran DR. H. Ajiep Padindang, SE,MM, di kampus FIB Unhas, sekaligus menitipkan pesan agar DPD dan DPR mendorong pemajuan kebudayaan melalui kebijakan.
Ajiep menyampaikan pengantar sebelum membuka seminar, bahwa kegiatan MPR RI dalam memasyarakatkan Empat Pilar Kebangsaan yakni melalui Sosialisasi dan Seminar Empat Pilar Kebangsaan MPR RI.
Sementara dalam penyajian materinya, Ajiep Padindang yang juga sebagai Angota DPD RI mengemukakan, Kebudayaan Daerah terbentuk dari antar kebudayaan lokal, biasanya dilihat dari aspek rumpun etnis dan administrasi wilayah. Sehingga kelihatan, Kebudayaan Bugis dan Makassar menjadi mayoritas pembentuk Kebudayaan Sulsel.
Lebih jauh Ajiep memaparkan, Kearifan Budaya sebagai suatu kebijaksanaan yang lahir akal budi dan adat istiadat pada Masyarakat Sulsel atau lebih spesifik pada Masyarakat Bugis-Makassar, merupakan pembentuk kebudayaan daerah dengan segala bentuk dan jenisnya.
"Dengan demikian, seluruh tatanan nilai Kearifan Budaya Sulsel, terbangun dan terbina melalui Ritual yang religius. Hal ini dapat kita lihat dalam Tradisi Siklus kehidupan Masyarakat Sulsel," terangnya.

Dalam perjalanan bangsa ini, lanjutnya, budaya Bugis dan Makassar di Sulsel semakin pudar dan tergerus. Karenanya, harus dilakukan suatu Gerakan Pemajuan Budaya Bugis dan Makassar di Sulsel.
"Yayasan Sulapa Eppae sudah melakukan itu melalui gerakan Pembelajaran Budaya melalui Sekolah Bugis, dan Sekolah Bugis-Makassar di Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Bulukumba, dan Pangkep," ungkapnya.

DR. Muhlis Hadrawi, MHum., sebagai nara sumber kedua dengan mengangkat 'Bahasa, Aksara, dan Manuskrip sebagai warisan kebudayaan utama Sulsel', menjelaskan, selalu terjadi Imperialisme Lingusitik (Linguisisme), di mana Penyebaran bahasa global pada sisi yang sama meminggirkan bahasa-bahasa Lokal.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi Pergeseran Lingkungan keluarga dalam penggunaan bahasa daerah, Bahasa Bugis contohnya. Pada masyarakat kota, 60,7 persen tidak lagi menggunakan bahasa Bugis, masyarakat Desa 35,6 persen, sehingga rata-rata 48,15 persen masyarakat di Sulsel tidak lagi menggunakan Bahasa Daerah di lingkungan keluarganya," papar Muhlis.
Beberapa pertanyaan mengemuka dalam diskusi di sesi Tanya jawab. Diantaranya mengenai terkikisnya budaya lokal akibat pengaruh teknologi informasi dan komunikasi. Menanggapi hal itu, Ajiep menyampaikan, fenomena semakin memudarnya budaya lokal Bugis dan Makassar tentunya menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi kita yang peduli pada Budaya di Sulsel. Karenanya harus dilakukan sebuah gerakan Pemajuan Budaya Bugis dan Makassar.
"Model gerakan tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk kegiatan antara lain; workshop, lokakarya, pagelaran, festival, dan terakhir yang tengah gencar dilakukan adalah Pembelajaran Budaya melalui Sekolah Bugis, dan Sekolah Bugis-Makassar.” pungkas mantan Anggota DPRD Provinsi Sulsel empat periode tersebut. (rk)