Tahun 2020, Makassar dihiasi Lomba Paduan Suara Berlabel “Tingkat Dunia”


SOROTMAKASSAR -- Makassar.

Dunia musik di era globalisasi menggeliat manja di pori-pori aspek kehidupan manusia dan tentunya mengalami perkembangan dalam ragam kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia akan musik tidak akan pernah hilang karena musik ada untuk manusia dan musik membutuhkan manusia serta manusia membutuhkan musik. Musik tidak akan hilangdan akan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Salah satu elemen musik yang cukup “trend” saat ini adalah seni memadukan dan memainkan suara yaitu seni Paduan Suara, baik yang bergenre “jadul” (beberapa abad yang lalu), pop, jazz, dan nyanyian rakyat (folklore) serta inovasi lainnya dalam paduan suara. Paduan suara berperan sebagai pengantar atau penyalur ide-ide komponis atau arranger yang ditransfer dalam partitur dan dibunyikan oleh suara manusia.

Makassar sebagai pintu gerbang Indonesia Timur menjadi daya tarik bagi para penyelenggara even Lomba Paduan Suara yang mengemasnya dengan label “tingkat internasional” dengan juri yang juga berlabel “tingkat dunia”, dan peserta yang diharapkan ikut juga datang dari berbagai “penjuru dunia”. 

Dua even lomba paduan suara akan diselenggarakan di Makassar pada tahun 2020 ini, yaitu “Makassar World Choir Festival 2020” pada tanggal 28 September 2020 - 1 Oktober 2020 yang diselenggarakan oleh Bandung Choral Society dan “Choral Orchestra Folklore Festival” pada tanggal 23 - 26 Juli 2020 yang diselenggarakan oleh Festive Indonesia.

Melihat judul acaranya memang sangat “mendunia” dengan judul berbahasa Inggris yang tentunya membuat kemasan yang sangat “bergengsi” (indahnya bila ada sisipan bahasa Makassar).

Makassar sangat bersyukur dihiasi oleh dua even tersebut karena tentunya akan menjadikan Makassar dikenal oleh para praktisi, penyelenggara, dan yang berkecimpung dalam dunia paduan suara lokal maupun level “tingkat dunia”. 

Untuk mengikuti ke-2 even tersebut peserta harus mempersiapkan anggaran yang tidak sedikit (puluhan sampai ratusan juta), dengan dana yang cukup besar untuk menjadi peserta tentunya bukan kendala bagi kelompok paduan suara yang memang ingin menambah jam terbang ataupun mengetahui tingkat keberhasilan selama berbulan-bulan melakukan latihan, dan bisa jalan-jalan ke Makassar.

Selain itu mendapat kolega baru dalam dunia paduan suara, punya track record pernah mengikuti even “tingkat dunia”, euforia/kebanggaan (jika menang/jika tidak menang jangan sedih) dan punya koleksi foto dan video di pantai Losari atau tempat wisata lainnya di Makassar.

Bagi penyelenggara tentunya ini merupakan “bisnis” yang menantang dan bisa “menghasilkan” karena baru tahun 2020 ini ada even lomba paduan suara yang “bergengsi tingkat dunia” di kota Makassar yang nota bene adalah kota yang sangat mengagungkan seni lokal masyarakat Makassar.

Muncul petanyaan lomba paduan suara ini selain orientasinya ke wilayah “bisnis”, untuk kota makassar sendiri apa yang bisa diberikan ? Dari segi pariwisata terlihat even ini tidak mengedepankan sisi-sisi promosi pariwisata di kota Makassar ataupun ikut mengangkat seni budaya Makassar.

Bandingkan dengan even tahunan di Makassar “Jazz Fort Rotterdam” yang mendapat dukungan dari Pemerintah kota Makassar karena tujuan penyelenggaraannya adalah mempromosikan objek wisata yang ada di kota Makassar salah satunya adalah Benteng Fort Rotterdam.

Mungkin penyelenggara berdalih bahwa ada kategori lomba nyanyian rakyat (folklore), tetapi tentunya ini adalah bagian dari kategori lomba dan bukan bertujuan ikut mempromosilan pariwisata kota Makassar.

Semoga even ini tidak sekedar memasukkan musik-musik urban (termasuk musik jadul beberapa abad lalu) ke dalam pikiran masyarakat  Makassar sebagai musik yang “agung” karena Makassar sendiri mempunyai seni musik yang sudah mendunia dan harus menjadi tuan rumah di kota Makassar.

Terlepas dari semua itu tentunya Makassar berterima kasih sudah mendapat kepercayaan untuk menjadi tempat lomba paduan suara “tingkat dunia.  Makassar bisa tonji. (Johan Tinungky)