Terinspirasi Rumah Panggung Nusantara, Tim Peneliti Kembangkan Lift House Adaptif untuk Hadapi Banjir

SOROTMAKASSAR — MAKASSAR, Berangkat dari kearifan arsitektur tradisional Indonesia, tim peneliti mengembangkan inovasi hunian adaptif bernama Lift House, sebuah konsep rumah yang dirancang untuk merespons perubahan muka air akibat banjir.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui penelitian berjudul “Realisasi Purwarupa Awal dan Uji Fungsional Mekanisme Pengangkatan Adaptif Hunian Rawan Banjir Berbasis Model Simulasi Struktur” yang memperoleh dukungan pendanaan melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek).

Penelitian ini dipimpin Prof. Dr. Ar. Ir. Naidah Naing, ST., M.Si., IAI, IPU, Guru Besar Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, didampingi anggota tim Ir. Suriati Abd Muin, ST., MT., dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik UMI Makassar, serta Dr. Irwan, S.Pi., M.Si., dosen Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan, serta mahasiswa.

Menurut Prof. Naidah Naing, pengembangan Lift House berangkat dari pemahaman bahwa rumah panggung tradisional Indonesia telah menunjukkan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan, khususnya wilayah yang memiliki hubungan erat dengan air.

“Rumah panggung bukan hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menyimpan prinsip adaptasi terhadap lingkungan. Prinsip tersebut menjadi inspirasi untuk mengembangkan konsep hunian yang mampu memberikan respons terhadap perubahan muka air,” ungkap Prof. Naidah.


Mengembangkan Kearifan Lokal dengan Pendekatan Teknologi

Prof. Naidah menjelaskan, Lift House tidak dimaksudkan untuk menggantikan keberadaan rumah panggung tradisional. "Sebaliknya, inovasi ini mengembangkan prinsip dasar rumah panggung melalui pendekatan penelitian, simulasi struktur, realisasi purwarupa, hingga pengujian fungsional," jelasnya.

Pengembangan Lift House merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya dengan target peningkatan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari level 4 menuju TKT 5.

Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi penelitian, yaitu membawa konsep yang sebelumnya masih berada pada tahap simulasi menuju bentuk purwarupa yang dapat diuji secara langsung.

“Proses penelitian tidak berhenti pada konsep. Kami melakukan realisasi purwarupa dan pengujian untuk melihat bagaimana sistem tersebut bekerja dalam kondisi nyata,” paparnya.


Sistem Pengangkatan Mengikuti Perubahan Muka Air

Lift House dirancang sebagai sistem hunian yang terdiri atas struktur rumah, sistem pelampung, elemen struktur vertikal, serta mekanisme pengarah pergerakan.

Saat muka air meningkat, sistem pelampung memberikan respons gaya apung yang memungkinkan struktur rumah mengalami proses pengangkatan secara bertahap.

Salah satu inovasi utama dalam purwarupa ini adalah penggunaan sleeve berbahan kayu sebagai mekanisme pengarah pergerakan. Sistem tersebut tidak menggunakan rel, tetapi memanfaatkan hubungan antara sleeve kayu dan elemen struktur vertikal untuk menjaga arah pergerakan rumah ketika mengalami kenaikan maupun penurunan.

Menurut Prof. Naidah, penggunaan mekanisme sederhana berbasis material lokal menjadi salah satu pendekatan penting dalam pengembangan inovasi ini.

“Teknologi adaptif tidak selalu harus menggunakan sistem yang kompleks. Melalui pendekatan sederhana, material lokal juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari solusi inovatif,” katanya.


Purwarupa Diuji pada Kondisi Kenaikan Air

Prof Naidah memaparkan, setelah melalui tahap simulasi, rancangan Lift House kemudian diwujudkan dalam bentuk purwarupa awal. Tahapan ini dilakukan untuk mengamati secara langsung hubungan kerja antara sistem pelampung, struktur rumah, dan sleeve kayu sebagai satu kesatuan mekanisme.

Pengujian dilakukan dengan meningkatkan muka air secara bertahap. Berdasarkan hasil pengamatan, purwarupa mulai menunjukkan respons pengangkatan ketika tinggi muka air mencapai sekitar 65 sentimeter.

Pengujian kemudian dilanjutkan hingga mencapai kondisi muka air sekitar 87,5 sentimeter. Setelah itu, muka air diturunkan secara bertahap untuk melihat respons sistem dalam satu siklus pengangkatan dan penurunan.

Hasil pengujian tersebut menjadi bagian penting dalam mengevaluasi kinerja mekanisme Lift House serta menjadi dasar untuk pengembangan penelitian pada tahap berikutnya.


Menuju Konsep Hunian Adaptif Masa Depan

Menurut Prof. Naidah, perubahan kondisi lingkungan akibat banjir membutuhkan berbagai pendekatan, termasuk inovasi pada desain hunian.

Selain pembangunan infrastruktur pengendalian banjir, konsep hunian adaptif dapat menjadi salah satu alternatif dalam meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi perubahan kondisi alam.

“Lift House merupakan perjalanan dari kearifan lokal menuju inovasi. Inspirasi berasal dari rumah panggung tradisional, kemudian dikembangkan melalui penelitian, diwujudkan dalam purwarupa, dan diuji secara fungsional,” ungkapnya.

Ia berharap pengembangan ini dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi hunian yang lebih responsif terhadap tantangan lingkungan di masa depan.


Dukungan Program BIMA untuk Hilirisasi Riset

Tim peneliti menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program BIMA atas dukungan pendanaan terhadap penelitian tersebut.

Dukungan ini menjadi bagian penting dalam proses realisasi purwarupa dan pelaksanaan uji fungsional sebagai langkah pengembangan hasil riset menuju inovasi hunian adaptif yang terinspirasi dari kearifan rumah panggung tradisional Indonesia. (***)