SOROTMAKASSAR — MAKASSAR, Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PERGATSI) Sulawesi Selatan masa bakti 2025–2029, Ir. Hasbi Syamsu Ali, MM, menegaskan pelantikan pengurus baru dan Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) IV PERGATSI Sulsel bukan sekadar agenda seremonial organisasi, melainkan momentum memulai arah baru pembinaan gateball di Sulawesi Selatan.
Hasbi mengatakan, kepengurusan periode 2025–2029 akan fokus membangun ekosistem gateball secara terarah melalui penguatan organisasi, pembinaan atlet, peningkatan kapasitas pelatih dan wasit, pengembangan daerah, hingga peningkatan kualitas kompetisi.
Pelantikan dan pengukuhan pengurus PERGATSI Sulsel dijadwalkan berlangsung Jumat, 4 September 2026, dirangkaikan dengan Rakerprov IV PERGATSI Sulsel di Mahoni Hall Lantai 2 Hotel Claro Makassar, mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai.
Menurut Hasbi, gateball memiliki makna yang jauh melampaui sebuah cabang olahraga. Ia menyebut permainan tersebut sarat filosofi tentang kepemimpinan, pengambilan keputusan, kerja sama, dan pembentukan karakter.
Lahir dari Kesederhanaan
Hasbi menjelaskan, gateball lahir di Jepang pada 1947 di Hokkaido melalui Eiji Suzuki (Kazunobu Suzuki). Permainan yang terinspirasi dari olahraga croquet itu awalnya diciptakan sebagai permainan sederhana bagi anak-anak pada masa sulit pasca-Perang Dunia II.
"Gateball lahir dari kesederhanaan. Ia bukan permainan yang membutuhkan fasilitas mewah atau kekuatan fisik yang luar biasa. Justru dari keterbatasan itu lahir permainan yang mengajarkan kecerdasan, ketepatan, kesabaran, dan kerja sama," ujarnya dalam keterangan tertulis kepada media, Kamis (3/9/2026).
Seiring perkembangannya, gateball menjadi olahraga yang dapat dimainkan lintas usia dan jenis kelamin. Tahun 1984 dibentuk Japan Gateball Union, disusul World Gateball Union (WGU) pada 1985, sementara Kejuaraan Dunia Gateball pertama digelar di Hokkaido pada 1986.
Di Indonesia, gateball mulai dikenal sekitar 1994 di Bali. PERGATSI kemudian dideklarasikan pada 2011 dan resmi menjadi anggota KONI sebagai cabang olahraga prestasi pada 2013.
Filosofi Menentukan Arah
Bagi Hasbi, kekuatan gateball terletak pada filosofi setiap pukulan. Dalam permainan ini, pemain dituntut membaca situasi, menghitung posisi bola sendiri maupun lawan, menentukan arah pukulan, mengukur risiko, dan memahami konsekuensi setiap keputusan.
"Gateball mengajarkan bahwa hidup tidak selalu membutuhkan kekuatan besar. Yang lebih penting adalah kemampuan menentukan arah dan mengambil keputusan yang tepat," katanya.
Ia menilai satu keputusan kecil dalam permainan dapat memengaruhi keseluruhan jalannya pertandingan, sebagaimana keputusan dalam kehidupan dan kepemimpinan.
"Kalau kita salah menentukan arah, konsekuensinya bisa panjang. Karena itu kita harus belajar tenang, membaca keadaan, berpikir sebelum bertindak, dan menentukan momentum," ujarnya.
Selain strategi, lanjut Hasbi, gateball juga mengajarkan pentingnya kerja sama tim. Dalam kondisi tertentu, seorang pemain justru harus membuka peluang bagi rekan setim agar tim memperoleh kemenangan.
"Di sinilah kita belajar, kemenangan tidak selalu tentang siapa yang paling menonjol. Ada peran-peran yang tidak terlihat, tetapi justru menentukan keberhasilan tim," tuturnya.
Olahraga Pembentuk Karakter
Hasbi juga memandang gateball sebagai media pembentukan karakter karena menanamkan disiplin, kepatuhan terhadap aturan, sportivitas, kemampuan mengendalikan ego, serta penghormatan kepada lawan.
Dalam permainan beregu, kata dia, setiap orang memiliki fungsi berbeda yang saling melengkapi, mulai pemain, kapten, pelatih hingga wasit.
"Gateball mengajarkan, dalam sebuah tim setiap orang memiliki peran. Ini adalah gambaran kecil tentang bagaimana organisasi dan kehidupan sosial bekerja," katanya.
Karakter gateball yang menggabungkan strategi intelektual, permainan tim, dan keterbukaan bagi berbagai kelompok usia juga menjadi salah satu kekuatan olahraga tersebut sebagaimana dikembangkan World Gateball Union.
Karena itu, Hasbi berharap pengembangan gateball di Sulawesi Selatan tidak berhenti pada target prestasi semata.
"Prestasi tentu penting. Kita ingin melahirkan atlet-atlet berprestasi yang membawa nama Sulawesi Selatan ke tingkat nasional hingga internasional. Tetapi lebih dari itu, kita ingin gateball menjadi ruang membangun karakter, persahabatan, kebersamaan, dan kesehatan masyarakat," ujarnya.
Rakerprov Susun Langkah Konkret
Melalui Rakerprov IV PERGATSI Sulsel, Hasbi berharap seluruh jajaran pengurus menyusun program kerja yang terukur selama masa bakti 2025–2029.
Pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih dan wasit, perluasan kepengurusan daerah, serta penyelenggaraan kompetisi yang lebih berkualitas menjadi agenda prioritas organisasi.
Ia juga menekankan pentingnya memperkenalkan gateball kepada masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda.
"Gateball jangan hanya dipersepsikan sebagai olahraga kelompok usia tertentu. Ini olahraga lintas generasi, bisa dimainkan anak muda, orang tua, laki-laki maupun perempuan. Di situlah kekuatan gateball sebagai olahraga yang inklusif," katanya.
Hasbi berharap filosofi gateball menjadi semangat seluruh pengurus PERGATSI Sulsel dalam menjalankan amanah organisasi.
"Dalam gateball kita tidak dituntut memukul bola sekeras mungkin, tetapi memukul dengan tepat. Filosofi gateball adalah menentukan arah, membaca keadaan, mengendalikan ego, bekerja bersama, dan berani mengambil keputusan. Kemenangan lahir dari rangkaian keputusan yang tepat," pungkasnya. (Hdr)