Oleh : M. Dahlan Abubakar
SABTU (20/06/2020) siang, di tengah maraknya berita korban Covid-19 di layar kaca, masyarakat olahraga Sulawesi Selatan kehilangan seorang tokoh olahraga. Dia adalah Drs. H. Muhammad Djafar, pria yang di akhir-akhir hayatnya banyak memberi perhatian pada pengembangan kegiatan olahraga jantung sehat di daerah ini.
Angkatan almarhum memang tinggal masih bisa dihitung dengan jari. Mereka antara lain Prof. Dr. Zainuddin Taha, Drs. Jacob Nur, Drs. Sir Idar, Drs. John Latuheru, Nur Ihsan, dan Saleh Karim. Berita kepergian almarhum merebak melalui media sosial yang kecepatannya bagaikan sekilat mata berkedip.
Putri almarhum Deli Djafar yang dihubungi melalui whatsapp (WA) Sabtu (20/06/2020) malam menjelaskan, ayahnya meninggal di rumah pukul 10.10 Wita, Sabtu, karena penyakit asam lambung. Isterinya, Dra. Ny. Hj. Bunga Rosi terlebih dahulu mendahuluinya. Almarhum dikaruniai 7 anak (4 wanita, 3 pria), 14 cucu berikut 10 cicit.
“Inshaa Allah dikebumikan tanggal 21 juni 2020 di pekuburan UNM Limbung Kabupaten.Gowa,” ujar Deli Djafar dalam komunikasi dengan saya melalui WA menjelang tengah malam tadi.
Pria kelahiran Larompong Kabupaten Luwu 84 tahun silam tersebut semasa hidupnya termasuk salah seorang yang menerima penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pembina dan Penggerak Olahraga. Keaktifan almarhum dalam bidang olahraga tidak diragukan. Bahkan setelah pensiun 2001 masih aktif menangani kegiatan senam jantung sehat.
Dalam catatan saya, Drs. M. Djafar bersama Zainuddin Taha dan Jacob Nur termasuk sosok-sosok yang awal-awal menjadi pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Selatan, saat belum banyak sosok pemerhati olahraga terlibat dalam organisasi olahraga di daerah ini.
Sebelum KONI Sulsel dibentuk, datang Jenderal Supardi, Dirjen Olahraga yang didampingi oleh Drs. Aminuddin Mahmud yang ketika itu menjabat Kepala Bidang Pembinaan Olahraga di Kanwil Depdikbud Sulsel, menghadap Achmad Lamo.
Pak Lamo pun meminta Zainuddin Taha juga dipanggil. Intinya, Jenderal Supardi menyampaikan pembubaran Djawatan Olahraga Republik Indonesia (DORI) dan minta segera dibentuk KONI dan juga akan segera menyelenggarakan Musyawarah Olahraga Nasional di Jakarta pada tahun 1967.
Zainuddin Taha menjadi utusan Sulawesi Selatan dalam penyelenggaraan Musyawarah Olahraga Nasional (Musornas) I di Jakarta tahun 1967. Setelah Musornas di Jakarta, di Makassar pun digelar Musyawarah Olahraga Daerah (Musorda) KONI I Sulawesi Selatan dilaksanakan pada tanggal 17 s./d 20 Mei 1968.
Setelah terbentuk, KONI Sulawesi Selatan mendapat kepercayaan Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan mengelola dan memanfaatkan semua sarana olahraga peninggalan PON IV Tahun 1957. Sarana itu terdiri atas sebuah stadion, satu kolam renang, satu gedung olahraga, dan beberapa rumah di Jalan Stadion serta lapangan untuk PSM (yang kemudian dimanfaatkan sebagai lokasi membangun Stasion TVRI Ujungpandang,Sulawesi Selatan).
Dalam kepengurusan KONI Sulawesi Selatan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Sulawesi Selatan Nomor 502/XI/67 tanggal 21 November 1967, almarhum Drs. M. Djafar (ketika itu belum sarjana) termasuk salah seorang di dalam kepengurusan komite olahraga ini. Kepengurusan itu diperkuat dengan SK Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Selatan tanggal 23 Januari 1967 dengan komposisi pengurusnya dengan sistem presidium sebagai berikut :
Pelindung/Penasihat : Brigjen Solichin G.P. Presidium terdiri atas : Letkol Achmad Lamo (Ketua), para wakil ketua : A. Pangerang, Mayor M. Dg. Patompo, Letkol Hasanuddin Nawing, Drs. Zainuddin Taha, dan Amir.
Pengurus Harian : A. Baso Amir, Wakil Ketua : Amir, Drs. Anwar Djamuddin, Kapten Pol A. Dangkeng, Kapten Pol Soeripto. Sekretaris Umum : Drs. Jacob Nur dan Sekretaris M. Djafar dan Djamaluddin Lathief. Bendahara : A. P. Gassing. Dari seluruh personel Pengurus pertama KONI Sulawesi Selatan periode tahun 1967 itu yang masih hidup tinggal Zainuddin Taha dan Jacob Nur.
Pak Djafar beberapa tahun kemudian juga menjadi Pengurus Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Sulawesi Selatan pada tahun 1976. Dia termasuk sosok yang paling lama duduk sebagai Wakil Ketua Pengda (kini Pengprov) ISSI Sulsel. Ketuanya adalah ex-officio Kapolda Sulawesi Selatan. Ketuanya selalu berganti seiring dengan serah terima jabatan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda), namun Pak Djafar sebagai wakil ketua dan Drs. Baharuddin Makkasau sebagai sekretaris tidak pernah berganti dalam kurun waktu yang lama.
Drs. Baharuddin Makkasau salah seorang Pengurus Provinsi ISSI Sulsel yang saya hubungi Sabtu (20/06/2020) malam melalui telepon mengatakan, pada tahun 1976 itulah untuk pertama kalinya di luar Jawa dilaksanakan Tour d’ISSI I di Sulawesi Selatan dengan rute Ujungpandang (Makassar)-Tana Toraja-Malino. Almarhum dan Pak Baharuddin Makkasau termasuk sosok di balik suksesnya penyelenggaraan tur yang diikuti para pembalap dari seluruh Indonesia itu.
Ketua Pengda ISSI Sulsel waktu itu Letkol. A. S. Gany yang juga menjabat Kadit Lantas Polda Sulsel (kantornya di Hotel Sahid Makassar sekarang). Wakil Ketuanya Drs. M. Djafar. Bendahara Pengda ISSI Sulsel waktu itu adalah Gasfan S. Ali yang juga menjabat Kepala Bank Bumi Daya (BBD) Sulsel (dulu kantornya di Jl. Sulawesi/Jl. Nusantara), dan Baharuddin Makkasau sebagai sekretaris umum.
Pak Achmad Lamo yang menjabat Gubernur Sulawesi Selatan ketika itu menggelar balap sepeda jarak jauh ini dalam usaha mempromosikan objek pariwisata di Sulawesi Selatan, khususnya Tana Toraja dan Malino serta daerah-daerah yang dilalui oleh para pembalap. Yang menjabat Sekda Sulsel ketika itu adalah Andi Patarai.
“Tour d’ISSI II dilaksanakan sekitar tahun 1982 dengan rute Ujungpandang-Malili (pp) yang mendapat dukungan dari seluruh Kodim yang daerahnya dilintasi peserta tur,” kata Baharuddin Makkasau.
Dia mengatakan, tur kedua ini dilaksanakan bertepatan dengan Kol. Bachtiar (kini sudah jenderal purnawirawan) yang ketika itu menjabat Kepala Staf Kodam XIV Hasanuddin selaku Ketua ISSI Sulsel. Selaku Sekum Pengda ISSI Sulsel, Baharuddin Makassau memperoleh tugas khusus dari Pak Bachtiar untuk mengomunikasikan dan mengoordinasikan pelaksanaan tur ini dengan para Komandan Kodim tersebut.
Setelah terbentuknya Yayasan Jantung Indonesia 4 Oktober 1974, di Sulawesi Selatan pun kepengurusan yayasan tersebut dengan gedung sekretariatnya di dalam jalan lingkar Stadion Mattoanging. Almarhumlah yang selalu memimpin kegiatan senam jantung sehat secara periodik di dekat sekretariat yang diikuti peserta laki dan perempuan.
Untuk menyosialisasikan informasi mengenai kegiatannya secara periodik juga almarhum mengantar sendiri tulisan ringkas mengenai kesehatan jantung ke Harian ‘Pedoman Rakyat’. Pada malam hari ketika redaksi sibuk di Jl. Andi Mappanyukki, beliau muncul dengan membawa satu dua lembar tulisannya.
Saya mengenal almarhum Drs. M. Djafar sekitar tahun 1978, ketika mengikuti Lokakarya Olahraga yang diselenggarakan oleh KONI Sulsel dan saya termasuk salah seorang wartawan yang ikut dalam kegiatan yang piagamnya masih saya simpan hingga kini. Lokakarya ini memberi pemahaman mengenai pengetahuan praktis tentang beberapa cabang olahraga yang sangat membantu para wartawan dalam meliput kegiatan olahraga.
Kepergian Drs. H. M. Djafar kian menambah berkurang sosok pembina olahraga di daerah ini, meskipun dalam beberapa tahun terakhir menjelang kepergiannya sudah jarang muncul di kegiatan-kegiatan olahraga yang biasa beliau hadiri.
Selamat jalan, sosok Pembina dan Penggerak Olahraga dan selamat bertemu dengan kekasihmu, Dra. Ny. Hj. Bunga Rosi, yang sudah menanti di sana.... Aamiin. (*)