Lewat Program 'Resona Lae-Lae', SHINE 2.0 Dorong Kemandirian Ekonomi Keluarga Nelayan Makassar

SOROTMAKASSAR - MAKASSAR.

Upaya mendorong kemandirian ekonomi keluarga nelayan terus dilakukan melalui berbagai pendekatan inovatif. Salah satunya hadir lewat program "Resona Lae-Lae", sebuah aksi pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan kemandirian ekonomi istri-istri nelayan di Pulau Lae-Lae, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (3/10/2026) ini merupakan bagian dari program SHINE 2.0 (She Inspires and Empowers) yang diselenggarakan oleh INOTEK bersama U-Go University. Pelaksanaan di lapangan melibatkan seluruh penerima beasiswa U-Go Makassar dari angkatan 2024, 2025, hingga 2026.

Perwakilan penerima beasiswa U-Go Makassar, Fitri Ramadhani Mahmud, menjelaskan bahwa ketergantungan pendapatan keluarga nelayan terhadap musim dan hasil tangkapan laut yang tidak stabil menjadi latar belakang utama hadirnya program ini.

"Istri-istri nelayan memiliki potensi besar untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif. Melalui program ini, kami mengusung inovasi kue baruasa—kue tradisional khas Sulawesi Selatan—yang dimodernisasi dari segi varian rasa, bentuk, kemasan, hingga branding produk agar memiliki daya tarik dan nilai jual lebih tinggi," ujar Fitri kepada media, Senin (5/10/2026).

Selama dua jam kegiatan yang dimulai pukul 14.00 hingga 16.00 WITA, para peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan baruasa kekinian. Selain fokus pada produksi, para peserta dibekali materi pengelolaan keuangan serta strategi pemasaran digital.

Istri-istri nelayan diajarkan cara memanfaatkan media sosial, membuat konten promosi, menyusun katalog produk, hingga menggunakan platform daring untuk memperluas jangkauan pasar. Langkah ini diambil karena keberhasilan sebuah produk usaha tidak hanya bergantung pada kualitas rasa, tetapi juga pada manajemen dan pemasaran yang adaptif terhadap teknologi.

Rangkaian program Resona Lae-Lae dirancang secara terstruktur mulai dari tahap observasi, mini project, pelatihan dan praktik, evaluasi, hingga penawaran program keberlanjutan. Melalui pendampingan lanjutan, para peserta yang berminat akan terus didampingi dalam mengembangkannya menjadi UMKM mandiri.

Melalui sinergi pelatihan pengolahan pangan lokal dan literasi digital ini, Pulau Lae-Lae diharapkan mampu melahirkan produk oleh-oleh khas baruasa modern yang tidak hanya menopang ekonomi keluarga nelayan, tetapi juga memperkuat potensi wisata daerah setempat secara berkelanjutan. (*)