Oleh : Ardhy M Basir
Suasana Ujung Pandang—begitu Makassar karib disapa kala itu—di pertengahan tahun 1992 punya ritme yang jauh lebih tenang. Belum ada keriuhan gawai pintar atau kepungan media sosial. Musik-musik pop melankolis era 90-an tengah merajai tangga lagu radio, menjadi latar suara dari kota yang sedang bertumbuh. Di ruang waktu itulah, tepatnya pada 28 Juni 1992, sebuah janji suci diucapkan.
Seorang pemuda energik bernama Ilham Arief Sirajuddin menautkan takdirnya dengan Aliyah Mustika. Dua nama yang menyatu, mengawali sebuah perjalanan panjang yang kelak tidak hanya mengukir sejarah keluarga mereka sendiri, tetapi juga menjadi pilar penting dalam sejarah kepemimpinan publik di Kota Makassar.
Hari ini, 28 Juni 2026, lembaran kalender telah berganti sebanyak 34 kali. Waktu membuktikan bahwa janji di tahun 1992 itu bukan sekadar romansa masa muda, melainkan sebuah komitmen baja yang kokoh berdiri melintasi zaman.
Mengukir Sejarah: Dua Pengabdian, Satu Garis Takdir
Perjalanan rumah tangga Pak Ilham dan Ibu Aliyah adalah potret nyata dari sebuah kemitraan yang melahirkan sejarah. Kota Makassar menjadi saksi bisu bagaimana estafet pengabdian mereka berdua dedikasikan untuk masyarakat.
Masyarakat tentu tidak lupa bagaimana Pak Ilham Arief Sirajuddin menorehkan tinta emas saat memimpin Kota Makassar sebagai Walikota selama dua periode. Di tangan pria yang akrab disapa IAS ini, Makassar bertumbuh pesat menjadi kota metropolitan yang diperhitungkan di Indonesia Timur. Selama sepuluh tahun masa kepemimpinannya, Ibu Aliyah selalu setia mendampingi, menjadi sosok di balik layar yang memperkuat langkah sang suami.
Namun, sejarah tidak berhenti di situ. Garis takdir kepemimpinan kini bergulir ke pundak Ibu Aliyah Mustika Ilham. Setelah dua periode mengabdi sebagai Anggota DPR RI, hari ini di tahun 2026, Ibu Aliyah mengukir sejarah baru dengan kembali ke garis depan pengabdian lokal sebagai Wakil Wali Kota Makassar. Bersama Wali Kota Munafri Arifuddin, mereka bahu-membahu menakhodai Kota Daeng menuju masa depan yang lebih unggul dan inklusif.
Jika dulu Ibu Aliyah mendampingi sang suami membangun kota, kini ia melangkah sendiri di panggung eksekutif, meneruskan napas pengabdian keluarga mereka untuk kesejahteraan warga Makassar.
Melintasi Badai, Merawat Rasa
Tiga puluh empat tahun tentu bukan waktu yang singkat. Di dalamnya ada tawa, ada air mata, ada puncak kejayaan, dan tentu saja ada lembah ujian yang menguji kesetiaan. Namun, bagi mereka yang sering menyaksikan interaksi keduanya di ruang publik maupun privat, satu hal yang tidak pernah berubah: saling menghormati.
Di tengah kesibukan politik yang padat—terlebih dengan tanggung jawab besar yang kini diemban Ibu Aliyah di Balaikota—mereka tetap mampu menampilkan esensi dari sebuah pernikahan yang sehat. Tak jarang, momen-momen sederhana seperti menikmati secangkir kopi bersama atau sekadar saling melempar senyum hangat di tengah riuhnya acara formal, menjadi bukti bahwa "rasa" yang tumbuh sejak tahun 1992 itu tetap dirawat dengan baik.
Kini, kebahagiaan mereka kian lengkap. Perjalanan panjang ini telah membuahkan generasi penerus yang membanggakan, serta cucu-cucu yang menjadi pelipur lara di hari tua.
34 Tahun yang Menginspirasi
Pernikahan Pak Ilham dan Ibu Aliyah adalah sebuah cetak biru (blueprint) tentang bagaimana cinta dan karier publik bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan. Tiga puluh empat tahun mengarungi bahtera rumah tangga, mereka telah bertransformasi dari sepasang pengantin baru di tahun 1992, menjadi simbol ketahanan, kesetiaan, dan kematangan.
Selamat Hari Ulang Tahun Pernikahan yang ke-34, Bapak Ilham Arief Sirajuddin dan Ibu Aliyah Mustika Ilham. Semoga ranum cinta yang dipetik sejak 28 Juni 1992 silam, terus mekar, memberi teduh, dan menginspirasi banyak orang hingga akhir masa.