* Refleksi Idul Adha di Tengah Ketimpangan dan Pudarnya Solidaritas
Oleh: Dr. Ir. Oswar Muadzin Mungkasa, MURP
MENJELANG Idul Adha, gema takbir mulai terdengar di berbagai tempat. Di masjid dan mushala, panitia kurban mulai sibuk mendata calon penerima, menyiapkan kupon pembagian, hingga mengatur distribusi kepada warga.
Di banyak kampung, Idul Adha masih menjadi salah satu saat kebersamaan yang paling terasa. Orang berkumpul, saling membantu, memasak bersama, dan berbagi dengan tetangga sekitar. Namun di balik suasana keagamaan dan hangat tersebut, Idul Adha juga diam-diam memperlihatkan wajah lain Indonesia berupa ketimpangan yang masih nyata di tengah masyarakat.
Bagi sebagian keluarga, membeli daging mungkin bukan lagi persoalan besar. Tetapi bagi sebagian lainnya, daging kurban masih menjadi sesuatu yang hanya bisa dinikmati setahun sekali. Di tengah pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan berbagai narasi kemajuan, masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan yang nyaris tidak terlihat.
Ada pekerja informal yang penghasilannya makin tidak menentu. Ada lansia yang bertahan hidup dari bantuan anak dan tetangga. Ada buruh harian yang harus menghitung pengeluaran dengan sangat hati-hati agar dapur tetap menyala. Ada pula keluarga di kawasan padat perkotaan yang hidup berdempetan di tengah mahalnya biaya hidup dan semakin sempitnya ruang sosial.
Karena itu, Idul Adha sesungguhnya bukan hanya tentang ritual penyembelihan hewan kurban. Tetapi merupakan pengingat tentang pentingnya solidaritas sosial di tengah kehidupan yang semakin individualistik. Dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kurban tidak pernah semata-mata berbicara tentang kehilangan. Namun berbicara tentang keikhlasan, tentang kesediaan menempatkan nilai yang lebih besar di atas kepentingan pribadi. Ada pelajaran tentang menahan ego, tentang kepatuhan moral, dan tentang keberanian untuk berbagi.
Sayangnya, dalam kehidupan terkini hari ini, semangat semacam itu justru terasa semakin mahal. Kita hidup di zaman ketika orang berlomba mengumpulkan banyak hal, tetapi semakin sulit berbagi ruang bagi sesama. Ruang publik dipenuhi persaingan, media sosial dipenuhi pencitraan, sementara solidaritas sosial perlahan bergerak menjadi sesuatu yang basa-basi. Kita semakin mudah menunjukkan kepedulian di layar telepon genggam, tetapi semakin jarang benar-benar hadir dalam kehidupan orang lain.
Dalam dunia politik dan kekuasaan, pengorbanan demi kepentingan bersama juga terasa semakin langka. Lebih sering terlihat justru perebutan pengaruh, konflik kepentingan, dan kecenderungan mempertahankan kenyamanan masing-masing. Semua orang ingin mendapatkan bagian lebih besar, tetapi tidak banyak yang benar-benar bersedia mengurangi kepentingannya demi kepentingan masyarakat.
Di titik inilah pertanyaan Idul Adha menjadi terasa sangat berkesesuaian bahwa apa yang sebenarnya kita korbankan hari ini?
Apakah kurban masih dimaknai sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memperkuat kepedulian sosial? Ataukah ia perlahan berubah sekadar menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan kedalaman maknanya?
Pertanyaan tersebut penting karena ketimpangan sosial Indonesia tidak hanya soal ekonomi. Ia juga menyangkut jarak empati yang semakin melebar. Di kota besar, misalnya, kehidupan sering bergerak begitu cepat hingga banyak orang nyaris tidak lagi mengenal tetangganya sendiri. Di media sosial, kemiskinan kadang hanya lewat sebagai materi singkat yang segera tergantikan isu lain beberapa menit kemudian. Kita hidup di era ketika rasa iba sering muncul cepat, tetapi juga cepat hilang.
Padahal bangsa ini sejak lama dikenal karena budaya gotong royong dan kebersamaan sosialnya. Dalam banyak keadaan sulit, bencana alam, krisis ekonomi, pandemi, masyarakat Indonesia berkali-kali menunjukkan bahwa kekuatan terbesar bangsa ini bukan hanya terletak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan saling menopang di saat sulit.
Karena itu, Idul Adha seharusnya tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Tetapi perlu menjadi saat perenungan bersama tentang apakah kita masih memiliki kepekaan sosial terhadap mereka yang tertinggal di tengah perubahan zaman?
Sebab mungkin yang paling perlu dikorbankan hari ini bukan hanya sebagian harta untuk membeli hewan kurban. Namun jauh lebih sulit justru mengorbankan ego, keserakahan, rasa nyaman untuk tidak peduli, serta kebiasaan menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama.
Setidaknya, di tengah dunia yang semakin bising oleh persaingan dan pencitraan, semangat berbagi dan solidaritas itulah yang justru paling dibutuhkan bangsa ini hari ini. (*)