Oleh: Oswar Mungkasa (Perencana Ahli Utama Bappenas)
TERDAPAT kecenderungan di Indonesia untuk menganggap pelemahan rupiah sebagai sesuatu yang “biasa”. Setiap kali dolar naik, penjelasan yang muncul hampir selalu senada bahwa keadaan global sedang tidak baik, suku bunga Amerika naik, perang terjadi di berbagai kawasan, atau penanam modal sedang mencari aset aman. Semua itu benar. Tetapi penjelasan tersebut hanya menjelaskan separuh persoalan.
Pertanyaan sebenarnya adalah mengapa setiap guncangan global selalu membuat rupiah jauh lebih rentan dibanding banyak negara lain? Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Pelemahan rupiah bukan sekadar cerita tentang dolar yang terlalu kuat. Tetapi juga merupakan cermin tentang seberapa kuat landasan ekonomi Indonesia sendiri.
Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Banyak kalangan mulai mempertanyakan apakah pelemahan ini murni disebabkan faktor luar atau justru karena pasar mulai melihat adanya persoalan domestik yang semakin serius. Pertanyaan itu penting karena pasar keuangan pada dasarnya bekerja berdasarkan kepercayaan. Nilai tukar tidak hanya dipengaruhi angka ekonomi, tetapi juga pandangan terhadap masa depan suatu negara.
Faktor Luar: Dunia Memang Sedang Bergejolak
Tidak dapat dipungkiri, dunia memang sedang berada dalam keadaan sulit. Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan. Akibatnya, dana global kembali mengalir ke aset dolar AS karena dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi. Perseterua geopolitik di berbagai kawasan juga meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai safe haven currency. Dalam keadaan seperti ini, hampir semua mata uang negara berkembang mengalami tekanan.
Indonesia tentu terkena dampaknya. Ketika penanam modal global menarik dana dari pasar obligasi dan saham negara berkembang, rupiah ikut melemah. Arus modal keluar membuat permintaan dolar meningkat. Pada saat bersamaan, kebutuhan impor, terutama energi dan bahan baku, tetap tinggi sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.
Tetapi faktor luar tidak cukup menjelaskan semuanya. Sebab jika akar persoalannya hanya global, maka seluruh negara berkembang seharusnya mengalami tekanan yang relatif sama. Faktanya, tingkat kerentanan tiap negara berbeda. Di sinilah faktor domestik menjadi sangat menentukan.
Faktor Internal: Ketika Pasar Mulai Meragukan Ketahanan Domestik
Pasar selalu membaca arah. Ketika pasar melihat arah kebijakan tidak ajek, defisit fiskal membesar, ketergantungan impor tinggi, atau kualitas belanja negara dipertanyakan, maka tekanan terhadap mata uang akan meningkat jauh lebih cepat.
Beberapa persoalan internal Indonesia saat ini tampak semakin nyata, diantaranya: Pertama, struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan strategis, baik energi, pangan tertentu, bahan baku industri, bahkan komponen teknologi. Akibatnya, setiap pelemahan rupiah langsung meningkatkan biaya produksi dan tekanan inflasi.
Kedua, ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas mentah. Ketika harga komoditas turun atau permintaan global melambat, pasokan devisa ikut menurun. Indonesia belum sepenuhnya berhasil membangun struktur ekspor berbasis manufaktur berteknologi tinggi seperti yang dilakukan banyak negara Asia Timur.
Ketiga, pasar mulai memperhatikan kualitas pengeluaran negara. Persoalan utamanya bukan semata besar kecilnya anggaran, melainkan apakah belanja tersebut menghasilkan kapasitas ekonomi baru.
Belanja publik yang memperkuat industri, logistik, teknologi, pendidikan berkualitas, ketahanan energi, dan produktivitas nasional umumnya dipandang positif oleh pasar. Sebaliknya, ketika ruang fiskal semakin besar diarahkan pada program yang bersifat distributif jangka pendek, proyek simbolik, atau kegiatan yang efek produktivitas ekonominya belum jelas, maka muncul pertanyaan mengenai efisiensi fiskal dan arah pembangunan jangka panjang.
Dalam situasi seperti itu, pelemahan kepercayaan sering kali tercermin pada tekanan terhadap mata uang domestik.
Keempat, ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek masih besar. Ini membuat rupiah sangat sensitif terhadap sentimen global. Begitu penanam mdal asing keluar dari pasar obligasi domestik, tekanan langsung terasa.
Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan pelemahan rupiah itu sendiri, tetapi gejala menurunnya kepercayaan terhadap kemampuan negara mengelola ekonomi secara meyakinkan.
Pelajaran dari Negara Lain: Mata Uang Kuat Tidak Lahir Secara Tiba-Tiba
Banyak negara pernah mengalami krisis mata uang. Tetapi negara yang berhasil keluar biasanya melakukan pembenahan struktural secara serius.
Korea Selatan setelah krisis Asia 1997 tidak hanya menaikkan suku bunga atau mencampuri pasar valuta asing, tetapi melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap sektor keuangan, memperkuat industri manufaktur, meningkatkan kualitas ekspor, dan memperbaiki tata kelola korporasi.
Cina menjaga kekuatan mata uangnya bukan hanya dengan cadangan devisa besar, tetapi karena memiliki basis industri dan ekspor yang sangat kuat. Dunia membutuhkan barang produksi mereka.
Jepang mampu mempertahankan yen selama puluhan tahun karena memiliki kedalaman industri, teknologi, dan produktivitas yang tinggi.
Sementara banyak negara yang gagal menjaga mata uangnya umumnya memiliki pola yang mirip seperti defisit kronis, ketergantungan impor, utang tinggi, dan kepercayaan pasar yang melemah.
Nilai tukar pada akhirnya bukan sekadar urusan moneter. Namun refleksi kekuatan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Pelajaran Penting dari Era B. J. Habibie
Indonesia sendiri sebenarnya pernah mengalami pengalaman luar biasa. Pada puncak krisis 1998, rupiah sempat jatuh sangat dalam. Namun dalam masa pemerintahan Presiden B. J. Habibie, rupiah perlahan menguat secara nyata dalam waktu relatif singkat. Banyak orang melihat ini sebagai “keajaiban”. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah pemulihan kepercayaan.
Habibie melakukan beberapa langkah penting berupa restrukturisasi dan konsolidasi perbankan, memperkuat independensi Bank Indonesia, menjalankan reformasi ekonomi, memperbaiki regulasi kepailitan, serta membangun kembali kepercayaan penanam modal melalui kepastian arah kebijakan.
Habibie memahami bahwa krisis bukan hanya persoalan angka, tetapi juga persoalan psikologi ekonomi. Pasar harus diyakinkan bahwa negara masih memiliki arah, kemampuan, dan keberanian memperbaiki diri.
Inilah yang tampaknya mulai menghilang hari ini yaitu rasa percaya bahwa negara memiliki strategi jangka panjang yang kokoh menghadapi tekanan global.
Agenda Segera: Menahan Kebocoran dan Mengembalikan Kepercayaan
Dalam jangka pendek, terdapat beberapa agenda mendesak yang tidak bisa ditunda. Pertama, menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter. Pasar harus melihat bahwa pemerintah dan bank sentral bekerja berdasarkan disiplin ekonomi, bukan semata kepentingan politik jangka pendek.
Kedua, memastikan bahwa belanja negara benar-benar produktif dan menghasilkan efek pengganda ekonomi yang nyata.
Ketiga, mengurangi tekanan impor non-prioritas dan memperkuat cadangan devisa.
Keempat, memperkuat komunikasi publik. Dalam krisis mata uang, komunikasi sangat penting. Ketidakjelasan sering kali lebih berbahaya daripada angka ekonomi itu sendiri.
Kelima, menjaga independensi dan kredibilitas bank sentral. Begitu pasar meragukan independensi otoritas moneter, tekanan terhadap mata uang dapat meningkat sangat cepat.
Agenda Jangka Panjang: Membangun Ketahanan Rupiah yang Sesungguhnya
Namun jalan keluar sejati tidak dapat hanya bergantung pada campur tangan pasar valuta asing atau kebijakan menaikkan suku bunga. Langkah tersebut mungkin penting untuk meredam gejolak jangka pendek, tetapi tidak cukup untuk membangun ketahanan rupiah secara berkelanjutan. Indonesia membutuhkan transformasi ekonomi yang lebih mendasar dan berorientasi jangka panjang.
Transformasi tersebut harus dimulai dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor strategis yang selama ini membuat ekonomi domestik sangat rentan terhadap tekanan nilai tukar. Selama kebutuhan energi, bahan baku industri, komponen teknologi, hingga sebagian kebutuhan pangan masih bergantung pada pasar luar negeri, maka setiap pelemahan rupiah akan langsung meningkatkan biaya produksi dan memperbesar tekanan inflasi di dalam negeri.
Pada saat yang sama, Indonesia perlu mempercepat pembangunan industri manufaktur bernilai tambah agar tidak terus terjebak sebagai pengekspor bahan mentah. Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa kekuatan mata uang sangat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi menghasilkan produk industri yang dibutuhkan pasar global. Karena itu, hilirisasi tidak cukup berhenti pada pengolahan awal komoditas, tetapi harus berkembang menuju industri dengan kandungan teknologi, inovasi, dan produktivitas yang lebih tinggi.
Upaya tersebut tentu tidak mungkin berhasil tanpa penguatan riset, penguasaan teknologi, dan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Negara dengan mata uang kuat umumnya tidak hanya memiliki sumber daya alam, tetapi juga kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu menciptakan efisiensi, inovasi, dan daya saing industri secara berkelanjutan.
Selain itu, struktur ekspor Indonesia juga perlu diarahkan agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga komoditas global. Ekspor berbasis industri manufaktur dan teknologi perlu diperbesar sehingga sumber devisa nasional menjadi lebih stabil dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Dengan struktur ekspor yang lebih kuat, tekanan terhadap rupiah pada saat terjadi gejolak global dapat dikurangi.
Di sisi lain, ketahanan pangan dan energi juga harus menjadi prioritas strategis. Negara yang terlalu bergantung pada impor pangan dan energi pada dasarnya sedang menempatkan stabilitas ekonominya pada posisi yang rapuh. Ketika harga global meningkat atau nilai tukar melemah, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat melalui kenaikan harga dan penurunan daya beli.
Semua itu pada akhirnya bermuara pada satu hal yang paling mendasar, yaitu kualitas kelembagaan dan tata kelola negara. Pasar tidak hanya membaca angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membaca kapasitas kelembagaan, kesinambungan kebijakan, kepastian hukum, disiplin fiskal, dan kemampuan pemerintah menjalankan pembangunan secara efektif. Tanpa tata kelola yang kuat, bahkan sumber daya alam yang melimpah sekalipun tidak akan cukup untuk menciptakan mata uang yang stabil dan ekonomi yang benar-benar tangguh.
Rupiah akan sulit benar-benar kuat jika ekonomi nasional masih bertumpu pada konsumsi, komoditas mentah, dan arus modal jangka pendek. Mata uang yang kuat pada akhirnya lahir dari ekonomi yang produktif, efisien, dan dipercaya.
Kita Tidak Sedang Baik-Baik Saja
Pelemahan rupiah sering dianggap sekadar angka di layar bank atau aplikasi keuangan. Padahal dampaknya sangat nyata yaitu harga impor naik, biaya produksi meningkat, tekanan inflasi membesar, dan daya beli masyarakat perlahan melemah.
Lebih berbahaya adalah ketika masyarakat mulai menganggap semua ini normal. Padahal sejarah menunjukkan bahwa krisis besar sering datang bukan ketika tanda-tandanya tidak ada, melainkan ketika tanda-tandanya terus diabaikan.
Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperbaiki keadaan. Indonesia memiliki sumber daya alam, pasar domestik besar, bonus kependudukan/demografi, dan posisi geopolitik strategis. Tetapi semua itu tidak langsung menjamin ketahanan ekonomi.
Rupiah yang melemah sesungguhnya sedang mengirim pesan kepada kita, ada sesuatu yang perlu dibenahi secara serius. Masalah terbesar sebuah bangsa bukan ketika ekonominya mulai melemah, melainkan ketika pemimpin dan masyarakatnya mulai menganggap pelemahan rupiah sebagai sesuatu yang normal. (*)